Halo urbaners, kali ini tim bantenurban.com ingin memberikan rekomendasi buku tentang anak. Buku tentang anak ini akan cocok untuk kamu yang suatu saat mau punya anak. Nah, buku ini bisa kamu ceritain ke anak kamu atau anak kamu yang baca sendiri. Jadi, yuk langsung aja baca terus.

The Boy in the Striped Pyjamas

The Boy in the Stripped Pyjamas adalah novel yang mengambil setting waktu saat orang-orang Yahudi ditangkapi dalam camp khusus di Austwitz. Novel yang bercerita tentang seorang anak berusia sembilan tahun bernama Bruno. Bruno tinggal di Berlin bersama keluarganya. Gretel kakak wanitanya yang berusia 14 tahun, ibunya seorang wanita rumah tangga biasa, dan ayahnya seorang komandan Nazi yang dekat dengan Hitler.

Ayah Bruno yang ditugaskan langsung oleh Hitler membuat Bruno dan keluarga harus meninggalkan Berlin dan pindah tidak jauh dari camp di Austwitz. Walaupun di rumah yang barunya Bruno memiliki halaman yang luas, tapi Bruno merasa kesepian. Sampai satu waktu Bruno melihat pagar yang lebih tinggi dari rumahnya dan terbentang panjang dengan kawat gulung yang memanjang dipuncaknya hingga tak terlihat.  Bruno melihat perbedaan yang sangat tidak biasa. Hanya tanah tandus, pondokan yang rendah, bangunan kotak yang berjejer, dan ratusan orang memakai pakaian yang sama. Sepasang piama kelabu bergaris-garis dengan topi garis-garis di kepala mereka. Saat bertanya tentang ratusan orang itu kepada ayahnya, jawaban yang mengejutkan keluar dari mulut ayahnya. Mereka bukan manusia Bruno, itu kalimat yang tegas dan  mengejutkan.

Merasa kesepian yang membuat Bruno berpetualang ke luar rumah dan menelusuri pekarangan sampai mengantarkan Bruno ke pagar yang lebih tinggi dari rumahnya. Di balik pagar yang ditongkang oleh kayu itu ada seorang anak dengan seragam kelabu dan memakai topi garis-garis di kepalanya sedang asik duduk menatap keluar pagar, menatap kepada Bruno.

Anak lelaki itu bernama Shmuel, usianya 9 tahun, sama dengan Bruno, bahkan tanggal lahirnya juga sama. Bruno dan Shmuel akhirnya bersahabat. Setiap hari tanpa diketahui kedua orang tuanya Bruno bertemu dengan Shmuel di balik pagar. Tak lupa Bruno membawakan sedikit makanan untuknya dan mengobrol banyak hal dengannya. Satu tahun berlalu sejak pertemuan pertamanya dengan Bruno. Sayangnya ketika persahabatan semakin erat, Bruno harus kembali ke Berlin. Namun sebelum Bruno meniggalkan camp khusus di Austwizt, dalam benaknya telah tersimpan rencana besar untuk melakukan petualangan terakhir bersama Shmuel di balik pagar rumahnya.

Bruno yang hidup secara normal tak dapat memahami apa yang sebenarnya dialami oleh Shmuel dan orang-orang di balik pagar rumahnya. Mereka saling bercerita, membuka diri. Penderitaan yang dialami Shmuel membuat ia lebih dewasa dibanding Bruno. Sementara Bruno seorang anak yang polos dan kerap tidak mengerti ketika Shmuel menceritakan pahitnya perjalanan hidupnya mulai dari penangkapannya hingga sampai di camp. Bruno tak juga sadar bahwa pagar tinggi itu tak hanya memisahkan rumah mereka, melainkan memisahkan status mereka. Shmuel dan orang-orang di balik pagar bukanlah manusia bebas. Hal ini tidak dimengerti oleh Bruno yang dengan kepolosannya mengajak Shmuel makan malam dirumahnya.

Walau novel ini mengambil setting camp mematikan Austwitz, namun tak ada deskripsi yang berlebihan mengenai penderitaan yang dialami oleh orang-orang Yahudi yang ditawan di sana. Semua dideskripsikan melalui sudut pandang anak-anak. Namun justru disinilah keistimewaan novel ini. Cukup melalui tuturan seorang anak berusia sembilan tahun yang mengungkapkannya dengan bahasa yang sederhana dan polos. Kemanusiaan kita terasa digedor-gedor untuk bangkit dan melawan ketidakadilan.

Selain itu melalui novel ini anak-anak bahkan remaja akan mendapat pelajaran bahwa sebenarnya ada ‘pagar’ yang seolah menghalangi persahabatan kita dengan orang lain. Mungkin itu pagar kekayaan, status sosial, jabatan, dll. Namun seperti Bruno dan Shmuel, mereka tak melihat pagar itu sebagai penghalang persahabatan mereka. Malahan Bruno berani menembus pagar itu untuk membantu kawannya.

Nah, jadi urbaners udah tertarik untuk baca buku buat anak ini? Ohiya, buku ini juga meraih beberapa penghargaan seperti Irish Book Award: People’s Choice Award Book of the Year, Irish Book Award: Children’s Book of the Year, dan CBI Bisto Children’s Book of the Year pada tahun 2007.

The Boy in the Striped Pyjamas

Judul Asli                    : The Boy in the Striped Pyjamas

Judul Terjemaham       : Anak Laki – Laki Berpiyama Garis – Garis

Penulis                         : John Boyne

Penerjemah                  : Rosemary Kesauli

Penerbit                       : PT. Gramedia Pustaka Utama

Halaman                      : 240

 

Sabtu Bersama Bapak: Kasih Ayah Juga Sepanjang Masa

22544789

“Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian. Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian. Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian. Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.”

Itulah yang dikatakan Gunawan Garnida, seorang Ayah yang ingin terus mendampingi kedua anaknya yaitu Satya dan Cakra mulai dari dalam kandungan hingga mereka menikah. Namun, hal itu tidak dapat terwujud akibat penyakit yang dideritanya merenggut nyawanya ketika anak-anaknya masih kecil.

Keinginan untuk tetap dapat bersama dan berbagi berbagai hal dengan anak-anaknya itulah yang membuat Gunawan berpikir tentang apa yang harus dirinya lakukan untuk anak-anaknya sebelum Ia meninggal dunia. lalu terpikir olehnya untuk merekam dirinya sendiri sambil bicara tentang berbagai hal, mulai dari cerita, nasihat, hingga pengajaran tentang banyak hal bagi Satya dan Cakra.

Setelah Gunawan tiada, setiap hari sabtu sehabis adzan ashar, istri Gunawan memutar video rekaman suaminya dan menontonnya bersama dengan Satya dan Cakra. Sejak saat itulah hari sabtu memiliki nilai lebih bagi Satya dan Cakra karena pada hari itulah mereka dapat berkumpul dengan Bapaknya walau berbeda ruang dan waktu namun terasa begitu dekat. Video-video tersebut tidak diputar sekaligus oleh istrinya melainkan secara berkala. Setiap rekaman dan apa yang dibicarakan Bapak Gunawan di dalamnya disesuaikan dengan usia anaknya.  Mulai dari mereka kecil, remaja, hingga mereka dewasa dan hendak menikah yang sekaligus akan menjadi seorang ayah pula.

Dalam salah satu video rekamannya, Gunawan berkata untuk anak-anaknya agar mereka bermimpi setinggi mungkin namun dengan perencanaan yang matang, bermimpi setinggi mungkin dengan kerajinan dan pantang menyerah, bermimpi setinggi mungkin dengan rencana dan tindakan karena tanpa itu anak istri Satya dan Cakra kelak dapat kelaparan. Nasihat inilah yang dipegang oleh Satya dan Cakra sebelum mereka menikah.

Satya bekerja sebagai geophysicist di sebuah kilang minyak di lepas pantai. Pekerjaannya telah membuat waktu bersama istri dan anak-anaknya sangat sedikit. Setiap pulang ke rumah Satya lebih sering marah-marah ketimbang bercengkrama dengan keluarganya. kurangnya perhatian dan hilangnya sosok suami dan ayah yang baik dalam diri Satya membuat Satya dan istrinya sering bertengkar. Hingga suatu hari dirinya tersadar setelah membaca pesan elektronik yang dikirim istrinya kepada dirinya bahwa dirinya terlalu sering menuntut terhadap anak dan istrinya ketimbang memberi yang anak dan istrinya butuhkan dari sosok seorang ayah dan suami. Saat itu pulalah Satya teringat pesan Bapaknya, “dalam cinta, ada yang namanya ‘memberi dan menerima’. Jadi, jangan sampai kamu terlalu banyak meminta sampai lupa memberi.”.

Karier Cakra pun terbilang cemerlang dengan menjadi seorang direktur deputi di sebuah bank. Namun kecemerlangan kariernya berbanding terbalik dengan kisah cintanya. Saat usianya sudah matang, dan kondisi ekonomi yang mapan, Cakra masih memilih untuk tetap sendiri. Walaupun ibunya seringkali menasihatinya agar lekas mencari pendamping hidup, namun Cakra selalu menolaknya dengan alasan dirinya belum siap. Cakra selalu teringat pesan Bapaknya dalam video yang selalu dirinya tonton setiap hari sabtu. Nasihat ini pulalah yang dikatakannya kepada Ayu, “Kata Bapak saya… dan dia dapat ini dari orang lain. membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan, Yu. Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggungjawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.”.

Video-video yang berisi nasihat dan berbagai macam hal lain dari Gunawan untuk Satya dan Cakra menjadi warisan yang sangat berharga. Nasihat-nasihat itu pulalah yang selalu menjadi pegangan Satya dan Cakra dalam menjalani hidupnya walaupun nasihat-nasihat Bapaknya dijalankan menurut interpretasi masing-masing. Video-video itu pulalah yang membuat Bapak selalu bersama mereka setiap hari sabtu walau tubuhnya telah lama terkubur dalam tanah. Video-video itu merupakan wujud kasih sayang seorang Bapak terhadap anak-anaknya yang selalu berharap anak-anaknya dapat menjadi lebih baik ketimbang dirinya.

Novel yang telah difilmkan dan rilis pada 5 Juli 2016 ini baik sekali disuguhkan kepada anak karena di dalamnya terdapat pelajaran mengenai bagaimana menyikapi berbagai hal dalam kehidupan. Novel ini pun sangat baik dibaca para orangtua karena di dalamnya terdapat pesan-pesan bagi para orangtua mengenai bagaimana baiknya menjadi orangtua dan bagaimana para orangtua seharusnya menjalin hubungan dengan anak-anaknya.

Judul               : Sabtu Bersama Bapak

Penulis             : Adhitya Mulya

Penerbit           : Gagas Media

Tebal Buku      : 278 + x Halaman

ISBN               : 979-780-721-5

Tahun Terbit    : 2014

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR