media banten

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama Ia tidak menulis, Ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Pernah dengar kutipan tersebut Urbaners? Yuup, kutipan tersebut adalah milik Pramoedya Ananta Toer seorang sastrawan kebangaan Indonesia yang kebetulan kemarin adalah hari lahir penulis yang lahir di Blora Jawa Tengah 6 Februari 1925 tersebut.

Pada kutipan tersebut Pram menekankan bahwa pentingnya menulis, karena dengan menulis dapat dikatakan kita mampu menjaga sejarah untuk masa depan kelak. Itulah alasan mengapa kita masih dapat mengetahui pengetahuan-pengetahuan sejarah pada zaman dahulu yang sangat berguna untuk dijadikan pembelajaran untuk saat ini.

Yang terdekat dengan kita tentunya adalah sejarah Kesultanan Banten, yang jika kita pelajari lagi ternyata sempat menjadi kerajaan yang sangat maju. Selain masyarakatnya saat itu sangat makmur dan sejahtera, Banten juga memiliki Infrastruktur yang pada zaman itu bisa dikatakan selangkah lebih maju dari daerah-daerah lain di Nusantara.

Nah, setelah sebelumnya sudah dibahas tentang siapa arsitek Kesultanan Banten yang membuat infrastruktur pembangunan di Banten sangat maju, kali ini akan kita bahas mengenai kebesaran Kesultanan Banten yang tertulis abadi dalam beberapa karya sastra Eropa klasik.

Banten (atau lebih dikenal dengan sebutan Bantam oleh orang Eropa) saat itu merupakan pelabuhan Internasional dengan komuditas utamanya adalah lada. Banyak bangsa Eropa berlabuh untuk berniaga. Sehingga banyak bangsa Eropa saat itu menganggap bahwa Banten adalah pusat kekayaan di Hindia Timur.

Jadi sangat wajar jika ketenaran Banten menjadi bahan cerita dalam karya-karya sastra Eropa saat itu. Masih dikutip dari Historia.id, berikut adalah “Banten dalam Karya Sastra Eropa Klasik”.

Love for Love (1695)

Drama Love for Love karya William Congreve (1670-1729) mengisahkan kehidupan pemuda, Valentin, dari keluarga terpandang. Ayahnya, Sir Sampson Legend, murka karena dia boros sehingga berhenti membiayainya.

Meski hanya sesaat, drama ini menyebut nama Banten yang kala itu asosiasinya di Eropa masih sangat masyhur. Penyebutan itu terdapat di adegan kelima babak II. “Aku tahu panjang kaki Maharaja Cina; aku prenah mengecup selop Mogul Agung dan berburu di atas punggung gajah bersama Khan Tartaria; aku main gila dengan istri seorang raja dan Sri Baginda Bantam yang sekarang adalah darah-daging hasil perselingkuhan itu,” demikian dialog antara Legend dan Foresight, paman Angelique, gadis idaman Valentin.*

“The Court of the King of Bantam” (1698)

Cerpen ini karya Aphra Johnson Behn, yang terdapat dalam bunga rampai All the Histories and Novels Written by the Late Ingenious Mrs Behn, Intire in Two Volumes. Bunga rampai tersebut diterbitkan pertamakali oleh Charles Gildon pada 1698.

“The Court of the King of Bantam” menceritakan seorang angkuh, Mr Would-be, yang gila hormat. Dalam sebuah Epifani (Perayaan Penampakan Tuhan) tahun 1683, dia menghambur-hamburkan uangnya demi sanjungan. Dia berhasil menjadi “raja” di perayaan itu. Orang-orang yang tak mengenalnya mengira dia pernah jadi raja di Hindia Timur. Setelah perayaan itu, teman-temannya memanggilnya Raja Bantam –dalam pandangan kebanyakan orang Eropa merupakan simbol kekayaan, raja di tanah yang menjadi sumber kekayaan– untuk memelorotinya.

Pengetahuan Aphra, perempuan kelahiran Inggris pada 1640, tentang Banten bermula sejak pernikahannya dengan Behn, pedagang Belanda. Selain itu, dia tahu kedatangan beberapa utusan keluarga Banten ke London pada 1682. Utusan-utusan itu sempat bermukim sehingga membuat sensasi di kota tersebut, yang menganggap Bantam sebagai salah satu pusat kemakmuran negeri-negeri Timur.

Aphra sendiri mulai menulis sepulangnya dari tugas sebagai mata-mata Inggris di Anvers (kini di Belgia) ketika Perang Inggris-Persekutuan Provinsi Belanda. Dialah perempuan Inggris pertama yang mencari nafkah lewat tulisan.

“La Princesse de Java” (1739)

Madeleine de Gomez, penulis cerpen ini, merupakan penulis produktif. Dia membuat banyak novel eksotis. Anak dramawan Paul Poisson ini, pada 1739 menerbitkan kumpulan cerpen sebanyak 30 buku yang diberi judul Les Cent Nouvelles Nouvelles. Cerpen “La Princesse de Java” merupakan cerpen ke-54 dan berada di buku ke-19. Ini berkesinambungan dengan dua cerpen sebelumnya, “Les Revers de la Fortune” dan “La Belle Hollandaise”.

“La Princesse de Java” menceritakan kehidupan pemuda Spanyol, Diego, yang terdampar di Banten. Setelah diselamatkan penduduk, dia bergaul dengan penduduk sampai akrab dengan Daen, sultan muda Banten. Tanpa diduga, keduanya sama-sama mencintai Garcia, putri seorang perempuan Genoa, istri kedua sultan Banten sebelum Daen. Kisah-kisah selanjutnya penuh petualangan.

Agon, Sulthan van Bantam (1769)

Sandiwara lima babak ini merupakan karya sastrawan ternama Friesland, Belanda, Onno Zwier van Haren (1713-1779), yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Prancis pada 1770 dan 1812. Untuk menyusun sandiwaranya, Haren kemungkinan besar merujuk pada buku Oud en Nieuw Oost-Indien karya F. Valentijn, di mana jilid keempatnya membahas Banten. Menariknya, Haren terang-terangan menentang penguasaan Banten oleh Belanda. Menurutnya, Banten sebagai bangsa patut dihormati laiknya Belanda atau bangsa-bangsa lain. Dia mengkritiknya, salah satunya, melalui karya ini.

Agon, Sulthan van Bantam mengambil latar perebutan kekuasaan di Banten. Karena sudah tua, Sultan Agon hendak turun tahta dan membagi kerajaan kepada dua putranya: Abdul dan Hasan. Namun karena si sulung Abdul menginginkan warisan seluruhnya, diam-diam dia minta pertolongan Belanda di Batavia. Belanda menyambut gembira, dan perang saudara pun terjadi.

De Page van de Sultane (1891)

Novel ini merupakan jilid kelima dari 24 jilid serial De Nederlanders in Oost en West, te Water en te Land karya Johan Hendrik van Balen (1850-1920) yang dibuat tahun 1881-1893. Novelis mantan pemimpin redaksi beberapa majalah bergambar ini sangat produktif, dengan lebih dari 100 judul buku yang dibuat. Mayoritas bukunya berupa kisah petualangan untuk anak muda. Buku-buku itu kebanyakan terinspirasi oleh sejarah orang-orang Belanda di seberang.

De Page van de Sultane mengisahkan petualangan pemuda Jawa, Atjong, yang hidup di masa perang Batavia-Banten. Dia satu-satunya orang selamat di keluarganya dari hukuman mati Sultan Ageng Tirtayasa. Lika-liku hidupnya membawanya menjadi abdi istri pertama Sultan Haji, anak Sultan Ageng Tirtayasa. Dia kemudian dipercaya menjalankan tugas berat yang membuatnya dua kali tertangkap dalam perjalanan ke Batavia. Pada penangkapan yang kedua, dia dijatuhi hukuman pancung karena dianggap membunuh seorang pemimpin Makassar, yang memihak Sultan Ageng Tirtayasa, dalam perang saudara Banten.

 

Nah Urbaners, dari karya-karya sastra tersebut kalian dapat melihat bagaimana mahsyurnya Banten hingga-hingga Banten disimbolkan sebagai sumber kekayaan. Berbeda dengan keadaan saat ini yang jangankan bersaing dalam dunia Internasional, untuk bersaing di tingkat nasional pun Provinsi Banten saat ini sangat sulit.

Memang keadaan zaman kesultanan tersebut tidak bisa dibandingkan dengan keadaan zaman sekarang, setidaknya fakta sejarah tentang kebesaran Banten seharusnya mampu memotivasi kita untuk berbuat sesuatu yang lebih agar Banten kembali dipandang seperti dahulu kala.

Dan seperti kata Pram yang mengatakan setiap tulisan akan abadi, kejadian saat ini yaitu kondisi Banten yang terpuruk akan tertulis dalam sejarah dan abadi. Lalu apakah kita ingin menjadi bagian dalam tulisan abadi sejarah Banten yang kelam? Tidak tentunya kan.

Sumber: http://historia.id/buku/banten-dalam-karya-sastra-eropa-klasik

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR