Apa yang ada di kepalamu ketika mendengar kata sains, urbaners? Hal-hal rumit dan tidak menyenangkan? Kamu salah besar, urbaners. Di Banten Science Day yang dilaksanakan pada Sabtu dan Minggu (8-9/10), sains dan teknologi terasa sangat menyenangkan. Dengan tema Semua Anak Terlahir Sebagai Ilmuwan, acara yang digagas oleh sekumpulan pecinta sains Banten, Semestarian, ini rupanya tidak hanya menarik perhatian orang dewasa, namun anak-anak juga. Bahkan acara yang sudah diselenggarakan dua kali ini, tidak hanya dihadiri para pecinta sains dari Banten, tapi dari berbagai kota lainnya seperti Jakarta, Garut, dan Palembang.

Ketua pelaksana, Ahmad Nahudin (22) mengaku bila acara yang diselenggarakan di SMAN 1 Cinangka ini merupakan puncak dari acara sosial Tur Sains yang dilakukan oleh perkumpulannya. Tur Sains sendiri lebih banyak menyasar anak-anak. Baik di peloksok Banten, maupun daerah lain di Indonesia seperti Kediri, Lampung, Bekasi, Bogor, Bandung, Bekasi, Karawang dan Lahat, Sumatera Utara.

“Tur sains itu paket mini dari Banten Science Day ini. Karena paket lengkap, maka kami kemas lebih padat. Mulai dari workshop, kelas eksperimen dan trik. Tujuan kami tetap sama, pengen mengenalkan sains lebih dekat ke masyarakat. Umumnya kan, orang-orang mengenal sains sebagai hal yang menjemukan. Nah, kami mengemasnya dengan hal-hal yang menyenangkan,” ujar lelaki yang memakai seragam putih merah itu.

Para peserta diajak mengenal sains dalam workshop yang dipandu oleh para praktisi profesional dan komunitas, mulai dari workshop biologi bersama Cellfie, workshop robotik bersama Untirta Robotic, workshop astronomi bersama Adam & Sun, dan workshop geologi bersama Lolita. Tidak hanya itu, para peserta juga diajak bereksperimen dan melakukan trik-trik sains juga, mulai dari pelepasan lampion, membuat doodle, dan lainnya. Selain itu, dalam acara ini juga ada lomba roket antar pelajar SMA se-Banten.

bantensainsday-1476093090420

Kalau ngomongin kendala, urbaners. Setiap acara pasti memiliki kendala yang membuat konsep acara melenceng dari yang seharusnya. Banten Science Day juga memiliki kendala itu. Mulai dari dana yang minim, tempat acara, dan ketidakhadiran pemateri. Tapi menurut Ahmad Nahudin, pihaknya memiliki siasat yang asyik. “Awalnya kami mengonsep di villa, tapi karena dana dan rupanya sulit juga menemukan villa sesuai dengan konsep acara kami. Akhirnya kami memilih SMAN 1 Cinangka ini sebagai tempat acara. Kalau soal ketidakhadiran pemateri, kami menyiasatinya dengan menggunakan Skype,” ujarnya.

Meskipun demikian, tidak ada raut tampak kekecewaan dari para peserta. Mereka tetap antusias. Bahkan ketika acara Kesan Peserta,  banyak dari mereka yang mengharapkan agar Banten Science Day diadakan lagi tahun 2017 nanti. Menurut peserta dari Tangerang, Ahmad, ia merasa jika acara ini menjadi ajang silaturahmi para pecinta sains.  “Di sini nggak ada batasan kita adalah saudara. Harapannya jangan hanya di sini (SMAN 1 Cinangka-red) aja. Tapi diadakan di sekolah-sekolah yang punya eskul (ekstra kulikuler-red) sains juga,” ujar lelaki yang masih duduk di bangku SMP ini.

Sedangkan Yulia, mengaku sangat terkesan meskipun cuaca tidak mendukung salah satu sesi acara yaitu meneropong bulan. Meskipun begitu, ia berharap Banten Science Day bisa dijadikan wadah untuk para pecinta sains di Banten dalam menambah wawasan sains dan teknologi. “Mudah-mudahan setiap tahun saya bisa mengikuti acara ini. Saya harap, ada lomba eksperimen untuk tingkat SMP,” ujar perempuan yang menjadi guru IPA di SMP 1 Sepatan, Tangerang itu.bsd

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR