“Beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku taklukan dunia.” – Bung Karno

Urbaners, kamu pasti sering mendengar kalimat itu. Kamu juga pasti tahu, siapa manusia yang berbicara seperti itu. Ya, Bung Karno. Presiden pertama kita itu memang sangat melegenda. Beberapa sosok yang belakangan ini bermunculan, saling serang untuk menggantikan sosok ini. Bapak Bangsa kita yang satu ini mengajarkan kita, bagaimana seharusnya kita bersikap menjadi Indonesia. Ya, Bhineka Tunggal Ika.

Dengan anggapan bahwa Hari Kemerdekaan tidak mesti dirayakan di hari 17 Agustus saja, para pecinta kopi berkumpul di Padepokan Kupi untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang tercinta ini. Pada Kamis (25/8) yang gerimis dan angin yang menggugur-terbangkan dedaunan yang agak mistis, acara kecil bertajuk “Bongkar Bung Karno” diselenggarakan dengan menghadirkan aura Bung Karno dalam berbagai bentuk. Misalnya saja, para pria yang hadir diwajibkan memakai kemeja putih, peci dan kaca mata hitam. Sementara untuk perempuan, diwajibkan memakai kerudung atau selendang merah.

merdekaa

Acara yang dimulai pada pukul 20.00 WIB ini diisi dengan menonton dokumentasi pidato Bung Karno. Semangat Bung Karno menelusup dan menyurup juga pada pembacaan penggalan pidato, puisi dan menyanyikan lagu pembangkit semangat dan kecintaan terhadap Indonesia dari para peserta yang hadir.

Anton Daryanto, alumni Bengkel Teater beserta kawan-kawan dari Graha Budaya Kandaka misalnya. Mereka menyanyikan Syair Soekarno dan Pancasila Is Dead. Tidak hanya itu, Anton juga mengatakan bahwa Soekarno masih menjadi aura, aumannya masih ada. Teaterawan Peri Sandi Huizche mengatakan bahwa orang Banten lebih tertarik berbicara politik kekuasaan, dibanding berbicara tentang kreativitas. Letupan semangat dalam pembacaan Pidato Syukuran Elbanditos. Malam berangin kencang itu terasa lebih mesra dan bergelora.

Suasana panas itu didinginkan dengan kedatangan tamu istimewa, Presiden Jancukers, Sudjiwo Tedjo. Keheningan seketika itu pecah kembali ketika lelaki yang biasa disapa Mbah Tedjo itu telah duduk di sofa legendaris Padepokan Kupi. Para pegiat seni yang hadir, kembali berunjuk gigi. Melihat semangat itu, Mbah Tedjo yang semula berniat untuk ngopi sembari menonton, terpancing untuk bercerita dan menyalurkan semangat untuk para penampil lainnya. Setelahnya, lagu “Bersuka Ria” karya Bung Karno pun dinyanyikan.

Hujan yang mendadak turun, membuat masyarakat pecinta kopi berpindah ke saung. Diskusi digelar lebih hangat. Dengan dongengan, Mbah Tedjo menjawab setiap pertanyaan. Tawa dan canda membuat suasana lebih akrab. Hujan reda, diskusi pun mereda. Tapi, semangat yang dibawa pulang tak kunjung reda.

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR