Drunken Molen adalah buku kelanjutan dari Drunken Monster karya penulis yang mengaku diselundupkan dari surga oleh orang tua yang tegang di malam pertama. Tidak berbeda dari buku sebelumnya, buku ini dengan senang bercerita tentang kehidupan sehari-hari imam besar the panas dalam yang akan membuat kamu menjadi sedikit bingung dan yasudahlah.

Membaca buku ini tidak akan membuat otak berfikir keras seperti membaca buku filsafat, cukup satu malam buku ini bercerita sendiri tentang kisahnya. Ini adalah catatan dari seorang ayah yang mempunyai 2 orang anak dan 1 orang istri. Sang ayah sudah diakui bernama Pidi Baiq, sang anak bernama Timur dan Bebe, dan sang istri ini mengaku bernama Rosi.

Ada tujuhbelas catatan harian Pidi Baiq yang dikemas sangat cacatnya dengan gaya bahasa yang mampu merampas waktu, karena kalau merampas hati wanita tidak mungkin Pidi Baiq lakukan terbukti sampai saat ini masih mempunyai 1 orang istri.

Jika kamu merasa sedih setelah membaca buku ini, sudah waktunya kamu mempertanyakan kejiwaan diri sendiri. Buku ini tidak bisa dikategorikan menjadi buku humor karena lebih bersifat horor. Banyak kepanikan yang akan dirasakan setelah membaca buku ini. Misalnya dengan cerita yang diberi judul “Patung Ngamen”. Dalam cerita ini Pidi Baiq yang sedang memangkas pohon di taman rumahnya mendadak jadi patung setelah ada pengamen yang asik bernyanyi di gerbang rumahnya. Pidi Baiq terus menjadi patung setelah pengamen itu selasai bernyanyi, bahkan Pidi tetap menjadi patung ketika pengamen itu bernyanyi di rumah tetangganya. Tetap diam, tidak berubah, benar-benar menjadi patung.

Ada juga cerita tentang Pidi Baiq yang menulis surat mulia kepada orang yang memasang iklan lowongan kerja di koran. Karena menurut Pidi Baiq orang yang memasang iklan tersebut adalah orang yang sangat mulia.

“Hati saya tidak terbuat dari marmer, bapak, sehingga bapak tidak perlu menilai saya perlu menilai saya terlalu mendramatisir apabila saya katakan bahwa iklan di koran yang bapak pasang itu, sungguh-sungguh telah membuat saya terenyuh dan tentunya sekaligus bangga. Saya nyaris tidak percaya bahwa masih ada di dunia ini orang yang begitu mulia seperti bapak.” (Hal 122)

Masih banyak lagi cerita-cerita harian yang membuat kamu tidak merasakan perubahan dalam hidup kamu ketikan kamu tidak melakukan apa-apa. Banyak hal kecil yang dilupakan oleh kebanyakan manusia ditulis dalam buku ini.

Jangan membaca buku ini jika kamu meminjam, pihak penerbit dan Pidi Baiq lebih suka ketika kamu membeli terlebih dahulu baru membaca ketimbang meminjam.

Penulis: Pidi Baiq
Terbit: 2009
ISBN: 978-602-7870-66-6
Peberbit: PT Mizan Pustaka
Halaman: 175
Harga: 49.000

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR