Urbaners Banten, kamu pasti sudah tahu jika pada Sabtu (17/09) umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan, kan? Di Serang, ritus sakral bagian dari rangkaian Hari Raya Galungan ini juga dilaksanakan dengan khidmat di Pura Eka Wira Anantha yang berada di kawasan Kesatrian Gatot Subroto Grup I Kopassus, Taman. Hari Raya yang jatuh pada 10 hari setelah Galungan, atau lebih tepatnya pada Sabtu atau Sanincara Kliwon Wuku Kuningan ini diikuti oleh kurang lebih 200 umat Hindu, baik yang berasal dari Serang, Cilegon, Pandeglang, Rangkas, maupun Tangerang.

Ritus umat Hindu yang dilaksanakan pada pukul 09.00 WIB itu dimulai dengan masuknya jemaat ke dalam area persiapan ritual atau madya mandala. Para penabuh gamelan khas mengiringinya, dan menciptakan suasana yang membuat dada siapapun bergetar. Umat Hindu yang telah memadati madya mandala itu pun memulai ritual sesajen. Setelahnya, mereka memasuki area persembahyangan atau utamaning mandala. Ritual persembahyangan yang dipimpin oleh Pandita Mangku Made Sudiade itu pun dimulai. Berselimut harum dupa, umat Hindu pun khusyuk menjalankan ritual demi ritual.

Darma wecana atau ceramah di hari raya yang dilakukan setiap 210 hari ini disampaikan oleh Mangku Haris Widodo. Ia mengangkat tema Makna Hari Raya Kuningan, yang menurut penjelesannya makna Hari Raya Kuningan sendiri memiliki makna “kauningan”, yaitu peningkatan spiritual dengan cara introspeksi agar terhindar dari mara bahaya.

kuningan-banten-2
Suasama khidmat Ritus Kuningan Di Pura Wira Anantha Taman Kopasus Kota Serang (17/09)

“Ada banyak makna yang dapat ditemukan. Misalnya saja, tamiang yaitu lambang permohonan kepada Tuhan agar selalu diberi perlindungan dalam kehidupan. Tamiang juga memiliki makna perputaran roda alam yang mengingatkan umat manusia pada hukum alam,” Tutur lelaki Lelaki yang juga berprofesi sebagai penyuluh di dinas di Kanwil Kota Serang ini.

Lalu ada endongan bermakna pembekalan. Menurut Haris, bekal yang utama dalam mengarungi kehidupan, yaitu ilmu pengetahuan dan bhakti kepada Tuhan. Hal yang terpenting dalam endongan adalah ketenangan pikiran. Sebab, segala sesuatu dikendalikan oleh pikiran.

“Bila pikiran manusia jelek, otomatis dalam perilakunya juga akan jelek. Tapi bila pikiran manusia sesuai ajaran dharma atau kebenaran, dalam kehidupan juga akan baik,” Tutur Haris.

Simbol lainnya yaitu, sampian gantung dan nasi kuning. Sampian gantung merupakan simbol tolak bala dan nasi kuning yang selalu dihadirkan dalam upacara Hari Raya Kuningan ini merupakan simbol kemakmuran berdasarkan kebenaran dan simbol rasa syukur kepada Tuhan.

Melalui perayaan ini, Mangku Haris mengajak semua umat manusia khususnya umat Hindu yang berada di serang untuk selalu ingat hubungan antar sesama manusia, meningkatkan persatuan dan solidaritas sosial. Selain itu, umat diharapkan selalu ingat pada lingkungan sehingga tercipta harmonisasi alam semesta.

editor: Wage Sumeru

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR