Halo urbaners Banten, pakaian tidak dibuat dengan sembarang, lho. Seorang desainer, membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk mendesain sepasang pakaian. Apalagi ini menyangkut pakaian khas daerah. Berbagai unsur mulai dari sejarah, kekayaan alam, budaya, diperhitungkan dengan matang hingga bisa menjadi satu kesatuan dalam pakaian itu sendiri. Desainer Ning S. Zulkarnain juga memiliki banyak pertimbangan saat mendesain pakaian khas Banten. Apalagi kemudian desainnya ini dituang dalam Peraturan Gubernur Nomor 13 tahun 2009 tentang Pakaian Khas Banten.

Sosialisasi pakaian khas ini sudah dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten sejak tahun 2009 hingga tahun 2015 lalu, urbaners. Tapi, kalau kamu penasaran mengenai rupa dan filosofi yang terkandung dalam pakaian ini, bantenurban.com akan memberikan gambarannya buat kamu. Catat dan langsung ke tukang jahit, ya.

 

Pakaian Khas Pria Banten

Pakaian pria ini sedikit lebih banyak memiliki aksesoris, urbaners. Tapi tenang saja, pakaian ini akan menambah keren kamu. Nah, ini filosofi pakaian khas pria Banten:

Ikat kepala (lomar) dengan motif telapak kerbau (tapak kebo, Sunda)  atau garuda yaksa berwarna dasar emas. Tentu saja ikat kepala ini sudah dibuat pola, sehingga kamu tidak perlu meminta bantuan siapapun lagi untuk mengikatnya. Pemakaian lomar ini merujuk pada kebiasaan masyarakat Baduy. Ini juga memiliki arti eksistensi Banten, karena suku Baduy menjadi kebanggaan Banten. Sedangkan untuk pemilihan motif telapak kerbau atau garuda yaksa, melambangkan kegigihan dalam bekerja.

Perpaduan antara motif telapak kerbau dengan warna emas melambangkan kedalaman hati, budi pekerti, dan kecemerlangan pikiran dalam menatap masa depan. Selain itu, warna emas juga menyimbolkan kemewahan, kekayaan penggunanya dan kesetiaan. Ini juga merujuk pada makna kemakmuran, kesehatan dan kegembiraan masyarakat Banten.

Pada pakaian khas laki-laki juga terdapat baju dalam berwarna putih dengan kerah tinggi. Baju dalam ini mirip dengan baju koko, urbaners. Baju dalam ini melambangkan religiusitas masyarakat Banten. Selain itu, melambangkan kebhinekaan masyarakat Banten. Warna putih melambangkan kesucian, keikhlasan, kebersihan dan ketepatan. Sedangkan kancing bulat berwarna hitam melambangkan kebulatan tekad dalam berkarya, melaksanakan tugas dan kewajiban.

Selain itu, jas berwarna hitam dengan motif daun hanjuang (cordyline fruticosa) berwarna emas. Hitam pada jas ini melambangkan kekuatan, keanggunan, keteguhan, kecanggihan dan ketenangan masyarakat Banten. Sedangkan daun hanjuang melambangkan perjuangan, tanaman monokotil ini bisa hidup di mana saja dan sering dipakai sebagai tanaman pembatas atau tanaman pelindung, baik di perkebunan, ladang atau sawah penduduk.  Artinya, masyarakat Banten mampu hidup dimana pun, dalam keadaan apapun.

Pada bagian pinggang, ada ikat tenun (beubeur) Baduy yang dijadikan serupa sabuk. Ikat ini melambangkan kondisi yang gemah ripah loh jinawi. Masyarakat Banten mengencangkan perut dalam rangka kesederhanaan. Selain itu, ada sarung (samping) yang dipakai rangkap di atas celana hitam polos. Motifnya sama seperti ikat kepala (lomar) yang melambangkan pembauran Banten dengan Melayu. Singkatnya, kain ini menyatakan keserumpunan dengan Melayu. Sementara untuk alas kaki, pakai selop hitam.

 

Pakaian Khas Perempuan Banten

Pakaian perempuan cenderung lebih sederhana, urbaners. Untuk motif kain dan selendangnya pun sama dengan motif ikat kepala dan sarung pada pakaian pria. Namanya juga sepasang, ya. Bukan jomblo.

Bagian pertama yang ada pada pakaian khas perempuan Banten, yaitu kerudung berwarna krem yang merupakan identitas perempuan muslim. Tapi kalau kamu bukan muslim, bagian ini bisa kamu abaikan, urbaners. Bagian selanjutnya yaitu kebaya encim berwarna krem dengan kerah sanghai tanpa motif. Kebaya ini melambangkan ketulusan dan keikhlasan dalam berkarya. Untuk bagian bawahnya, ada rok atau kain dengan motif telapak kerbau atau garuda yaksa berwarna dasar emas. Rok atau kain ini melambangkan pembauran Banten dengan melayu.

Bagian lainnya yang ada pada pakaian khas perempuan Banten yaitu selendang bermotif telapak kerbau atau garuda yaksa berwarna dasar emas. Pemakaiannya disampirkan di pundak sebelah kanan. Ini melambangkan kepatuhan, kesehatan, kesetiaan dan kegigihan dalam menerima amanah. Entah itu dalam keluarga, karir dan kemasyarakatan. Selain itu, untuk alas kaki dipadukan dengan selop berwarna hitam.

Bagaimana? Siap memakai pakaian ini ke acara seremonial seperti Hari Ulang Tahun Banten dan acara seremonial lainnya? Jangan lupa tinggalkan komentar, ya.

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR