kesultanan banten

Urbaners, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak telah dilaksanakan. Hasil rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum juga sudah selesai. Siapapun yang menjadi pemimpin Banten, semoga bisa bikin Banten tidak hanya nampak di peta, tapi diperhitungkan di kancah Nasional maupun Internasional. Pemimpin Banten yang sekarang akan menjabat, mungkin bisa berkaca juga pada hal baik yang dilakukan pemimpin Banten sebelumnya dan sebelumnya lagi.

Misalnya saja, pada masa Kesultanan. Banten pernah memiliki tiga pemimpin yang memiliki gelar setara santo yang suci, lho. Bahkan gelarnya pun ada sebelum gelar Sultan. Tidak hanya satu lagi, tapi tiga. Yep! Maulana.

Dikutip dari buku Menjadi Banten (Biro Humas Provinsi Banten, 2016), kata maulana ini diambil dari kata mawlana. Gabungan dari kata mawla yang satu akar dengan kata wala, wilayah, wali dan na kata ganti ‘kami’. Ada yang bilang juga kalau mawla ini memiliki makna al-malik yang berarti raja, tuan, pemilik budak, an-nashir (penolong), al-qarib yang berarti sahabat dekat dan al-mu’taq artinya budak yang dibebaskan. Terkadang diartikan juga sebagai al-‘atiiq yaitu orang yang membebaskan budak.

Nah, meskipun sama-sama mengelola pemerintahan, maulana dan sultan ini berbeda, urbaners. Singkatnya, maulana ini bukan sekadar raja yang menguasai satu wilayah tertentu saja, tapi sekaligus bertindak sebagai imam, ulama atau ahli agama juga. Kalau kata Martin van Bruinessen sih, saintly ulama. Bahasa kitanya sih Panembahan Ratu. Panembahan berarti orang suci atau orang yang disucikan atau diagungkan, sementara ratu merupakan raja atau pemimpin.

Kalau penasaran siapa tiga maulana yang pernah memimpin Banten, bantenurban.com kasih ulasannya buat kamu.

  1. Maulana Hasanuddin

  2. Maulana Yusuf

  3. Maulana Muhammad

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR