Halo urbaners, Pemilihan Gubernur saat ini memang sedang menjadi topik hangat dimana-mana, mulai dari Pilgub Jakarta hingga Pilgub provinsi kita yaitu Provinsi Banten. Topik yang biasanya menjadi kampanye para calon pun biasanya tidak jauh dari masalah pembangunan, terutama pembangunan infrastruktur. Khusus di Banten, pembangunan infrastruktur memang sedang menjadi pekerjaan rumah utama pemerintah saat ini. Tetapi tahukan kalian bahwa Banten sendiri sebenarnya pernah menjadi pusat percontohan dalam masalah pembangunan di Nusantara?

Sebagian besar dari kalian tentunya pernah berkunjung ke Situs Kota Kuno Banten yang terletak di Banten Lama kan? Ya, Banten Lama memang menjadi salah satu wisata sejarah andalan dari Provinsi Banten bahkan Indonesia. Peran Banten dalam merekam sejarah Nusantara sejak zaman kerajaan hingga masa kolonialisme Belanda di Indonesia memang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Bagaimana tidak, selain sempat menjadi kerajaan dengan armada terkuat di Nusantara serta letak geografis Banten yang pernah menjadi pusat perdagangan Internasional, Banten juga merupakan tempat pertama berlabuhnya kapal Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) perusahaan dagang multinasional milik Belanda yang kalian tahu sebagai antagonis utama pada masa penjajahan mereka di Indonesia.

Medio tahun 1660-1680-an bisa dibilang merupakan masa keemasan Banten, dimana Banten mampu menjadi Kerajaan di Nusantara yang jangakauan perdagangannya mampu menembus Seluruh Nusantara, Manila, China, bahkan Eropa. Berkat lancarnya perdagangan di Banten, tak heran Kesultanan Banten saat itu menjadi salah satu Kerajaan yang disegani di dunia karena memiliki kekuatan ekonomi yang kuat.

Ilustrasi VOC Pertama Kali Mendarat Di Banten (Foto Berbagai Sumber)

Dari segi infrastruktur pembangunan, bangunan-bangunan di Banten pada masa Kesultanan sangat maju dan modern. Adalah Kiayi Ngabehi Cakradana seorang syahbandar kerajaan juga merangkap sebagai arsitek pembangunan pemukiman di pertahanan Kesultanan Banten, yang berhasil membuat pembangunan infrastruktur di Banten yang saat itu bisa dibilang beberapa langkah lebih unggul ketimbang kota-kota di Nusantara lainnya.

Berdasarkan tulisan Historia.id, Cakradana merupakan keturunan Tionghoa. Cakradana menggantikan Kaytsu salah satu syahbandar tersukses di Kesultanan Banten, yang wafat pada 1674. Sejak saat itu Ia diangkat sebagai syahbandar utama pada 23 Februari 1677 dengan gelar Kyai Ngabehi Cakradana. Dia meninggalkan agama lamanya dan memeluk Islam. Sebuah sumber Inggris tahun 1666 menyebut Cakradana “orang yang paling disukai sultan.” Pedagang Prancis di Banten, Jean-Baptiste de Guilhen, tak ragu menulis: “Jelas bahwa dia adalah anak emas raja.”

Bersama Kaytsu, dia berhasil menggerakkan perekonomian Banten. Saat perdagangan di Banten meledak, Banten melakukan pembangunan besar-besaran. Dan Cakradana jadi arsiteknya. Proyek dimulai tahun 1671 dengan pembangunan sebuah kompleks permukiman berupa rumah petak di Pecinan. Area ini cukup luas karena mencakup sekitar 120 rumah bata dengan toko di lantai dasarnya.

Menurut Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII, sultan gemar akan rumah-rumah bata yang berasal dari tradisi China daripada bangunan menurut kebiasaan Jawa dengan kayu dan bambu. Selain itu, “sejumlah gedung dari istana Banten benar-benar diilhami oleh tradisi China, menurut sketsa yang dibuat oleh dokter Cortem nde dari Denmark,” tulis Guillot.

Laporan dari loji Inggris di Banten menyebutkan, “di tahun ini (1671), di sini (Banten) telah ada tiga jalan cukup baik dibangun oleh raja dan toko-toko untuk menampung mereka (orang-orang Tionghoa).” Guilhen menambahkan, “Cakradana membangun jalan-jalan seluruhnya atas biaya sendiri.”

Cakradana juga membangun dua jembatan batu – sebuah teknik yang tak dikenal di Jawa. Yang satu di dalam kota, sebelah utara istana, dengan tiang-tiang penyangga dari batu karang. Satunya lagi untuk menyeberang dari kota raja ke daerah niaga di Karangantu, di sebelah timur kota. “Jembatan ini dikenal dengan nama jembatan rantai,” tulis Guilot, “yang berarti jembatan yang bagian atasnya bisa diangkat dan diturunkan.”

Dengan alasan terjadi ketegangan dengan Belanda di Batavia, diputuskan pula memperbaiki pertahanan kota. Cakradana memulai pembangunan awal 1677 dan membutuhkan waktu lebih dari satu tahun. Benteng ini, terutama bagian yang berada di tepi laut, cukup aneh karena berbentuk zig-zag, untuk mencegah runtuhnya tembok yang tak cukup tebal, dan dibangun di lahan berpasir.

“Banten menjadi satu-satunya kota di Nusantara yang sejak pertengahan abad ke-16 memiliki benteng terbuat dari bata yang khususnya mengelilingi kota raja, artinya kawasan permukiman yang terletak antara kedua muara,” tulis Guillot. Benteng yang tak lazim ini dapat bertahan selama lebih dari satu abad, meski di beberapa tempat terlihat berlobang. Pada Mei 1678, tiga pangeran terpenting di kesultanan, yaitu Pangeran Kidul, Pangeran Lor, dan Pangeran Kulon mengamati perbaikan benteng yang diperlukan, sementara tembok yang berhadapan dengan laut sudah selesai.

Cakradana juga membangun benteng pertahanan di Carang Ontongh (Karangantu), di luar kota raja di tepian lain muara timur. Benteng ini selesai pada Maret 1679 dan dikunjungi oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Tembok benteng ini sangat tebal, terbuat dari batu yang dilapisi adukan kapur. Pengumpulan batu dikerjakan oleh para tahanan, khususnya yang dihukum karena kecanduan. Benteng ini diperkuat empat menara pertahanan di sepanjang sisi utara.

“Diperlukan keahlian yang tidak kami miliki untuk menentukan sumber-sumber yang mengilhami Cakradana dalam proyek arsitektural yang tiada bandingannya di Nusantara pada zaman itu,” tulis Guillot.

Setelah merebut kota itu tahun 1682, Belanda menghancurkan karya arsitektur Cakradana, dari benteng pertahanan hingga permukiman Tionghoa – hanya jembatan yang dirombak.

Benteng dihancurkan “sampai fondasi di sebelah timur Speelwijk” oleh orang Belanda tahun 1687. Meski demikian, tersisa sebuah peninggalan berupa tembok di sebelah utara di benteng Speelwijk. “Apabila kita lewat melalui pintu kecil berkubah yang menghadap ke laut dan mengamati tembok utara kubunya, terlihat dengan jelas tembok ini berbeda penggarapannya dibandingkan dengan yang lainnya,” tulis Guillot. “Inilah, sepenggal tembok kota lama, karya Cakradana.”

Nasib Cakradana serupa bangunan-bangunan yang dia dirikan. Sultan Haji yang berkuasa setelah menyingkirkan ayahnya, Sultan Ageng, mencopot Cakradana sebagai syahbandar. Sultan Ageng sempat merebut kekuasaan dan mengangkat Cakradana sebagai perdana menteri dengan gelar Kyai Arya Martanata. Namun Sultan Haji, yang bersekutu dengan Belanda, kembali menyingkirkan Sultan Ageng, untuk selamanya.

Cakradana dan keluarganya mengungsi dan memulai kehidupan baru sebagai syahbandar di Cirebon. Dia terlibat dalam perniagaan maritim tapi dalam skala yang jauh lebih kecil. Dia meninggal di Cirebon dan sesuai dengan keinginannya, jasadnya dibawa ke Batavia untuk dikebumikan.

Sumber: http://historia.id/persona/arsitek-kesultanan-banten

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR