longsor banten

Bantenurban.com. – Komunitas Relawan Banten kembali beraksi melalui program Trauma Healing: “Kita Semua Bergembira” pada Sabtu (6/8). Kali ini mereka bergandengan tangan dengan Himpunan Alumni IPB. Lokasi yang dituju yaitu Kp. Cikedung, Mancak, Kabupaten Serang yang beberapa waktu lalu terkena longsor. Kedatangan komunitas ini disambut anak-anak sedari posko pertama di SD dan SMP satu atap Cikedung.

Di Posko pertama ini, seluruh relawan diwajibkan mendaftarkan diri. Beberapa truk bantuan dari berbagai organisasi, baik yang mengatasnamakan sekolah, kampus dan organisasi kemasyarakatan ditahan untuk turun ke lokasi bencana. Pendaftaran ini dilakukan untuk mengetahui berapa jumlah relawan dan bantuan apa yang diberikan. Sementara di pelataran sekolah itu, pakaian layak pakai ditumpahkan dan kelas-kelas seperti gudang. Melihat hal itu, komunitas yang tidak membawa bantuan berupa logistik dan pakaian layak pakai ini, ngotot ingin turun ke titik bencana.

Kepada petugas, koordinator Komunitas Relawan Banten, Alyth Prakarsa, menjelaskan bantuan yang diberikan komunitasnya berupa Trauma Healing dengan cara mengajak anak-anak bermain. Adapun bingkisan, akan diberikan langsung pada anak-anak seusai permainan. Mendengar hal itu dan melihat tidak adanya truk bantuan seperti komunitas lain, petugas pun mengizinkan.

“Kami maksa turun karena emang tujuan kami datang untuk mengajak anak-anak bermain, bukan buat ngasih bantuan. Kami nggak mau cuma ngedrop barang doang,” tegas Alyth Prakarsa kepada petugas yang mengatai komunitasnya ngeyel dan sulit diatur.

Mengetahui bukan di lokasi itu, beberapa anak yang sudah berkumpul ingin ikut menuju lokasi. Dengan dibonceng beberapa relawan, anak-anak ini menjadi calon peserta sekaligus guide menuju SDN Cikedung. Jalan menurun yang landai dan terjal itu memiliki pemandangan hamparan pesawahan dengan tiga gunung kebanggaan, Gunung Karang, Gunung Aseupan dan Gunung Pulosari. Tapi kehati-hatian amat diperlukan, sebab di sisi kiri jurang menganga siap menelan siapa saja yang terpesona.

Beberapa plang memberitahukan bahwa rombongan ini sedang melewati kawasan hutan Gunung Tukung Gede dan dilarang berburu di kawasan itu. Di lokasi itu pula, titik longsor itu terjadi. Setidaknya ada tiga titik longsor yang sedikit menghambat kendaraan. Meskipun demikian, kegigihan komunitas ini bertemu anak-anak Cikedung tidak luntur.

Kedatangan komunitas ini disambut Kepala Sekolah SDN Cikedung. Setelah berdialog dan memohon izin, para relawan mulai mengumpulkan anak-anak di ruang kelas. Kurang lebih 50 anak yang mengisi ruang kelas itu diajak menulis surat untuk Presiden dan Gubernur Banten. Anak-anak dibebaskan meminta apapun, selain tentu saja mengabarkan bencana yang menimpa rumah mereka.

Dalam surat yang ditulis anak-anak itu, banyak dari mereka mengabarkan keadaan rumah dan meminta rumah mereka diganti, jalan diperbaiki, dan meminta benda seperti motor, handphone, sepeda, buku dan lain sebagainya. Tapi, ada yang lain yang dipinta Alam. Surat yang ditulis anak kelas I SD Cikedung ini akan menggugah siapapun yang membacanya. Dalam surat yang ditujukan kepada presiden itu ,ia idak meminta apapun selain semangka.

Kegiatan dilanjutkan dengan permainan di dalam kelas. Samson vs Delillah. Setelahnya anak-anak yang sudah dibagi menjadi dua kelompok itu diajak menembus terik matahari dan memainkan permainan seperti Tom & Jerry, Ular Terpanjang, Ular Terpendek, Love Terbesar, Love Terkecil dan Dor Tembak. Tidak hanya memandu, para relawan pun ikut bermain.

Kegiatan berlanjut dengan pemberian bingkisan dari Komunitas Relawan Banten dan Himpunan Alumni IPB, serta bingkisan dari mahasiswa Teknik Untirta yang menyusul ke lokasi. Kegembiraan ditutup dengan pelemparan balon ke udara sembari meneriakkan yel-yel andalan yang selama kegiatan selalu diteriakkan; ‘Kita Semua Bergembira”, sebagai simbol bahwa segala trauma bencana yang menimpa telah sirna. [*]

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR