acara banten

Bantenurban.comUrbaners, bantuan apa yang pertama kali terpikir oleh kamu saat mendengar berita bencana alam? Pakaian layak pakai, makanan, selimut, susu formula?

Ya, itu memang penting. Tapi, ada yang lebih penting lagi yaitu menyembuhkan trauma pascabencana. Setidaknya itulah yang ada di kepala para relawan yang tergabung di Komunitas Relawan Banten (KRB). Trauma healing “Kita Semua Bahagia”, itulah program yang mereka usung. Pada Sabtu (30/7), KRB melakukan program ini bersama Lembaga Perlindungan Anak (LPA Banten), Dinas Sosial, FKKADK, Forum TAS, SAPMA Cilegon, KSR Untirta, Kumandang Untirta, Mapalaut Untirta, Mapala Bina Bangsa, Yayasan IMD, dan Yayasan Maulana Hasanudin Cilegon, di Kampung Sukarame Kecamatan Labuan Pandeglang.

Lokasi selanjutnya pada Minggu (31/7), komunitas yang dikoordinatori Alyth Prakarsa ini beralih ke lokasi bencana alam tanah longsor dan banjir bandang terparah di Kampung Garung Sigarubug, Desa Sindang Mandi, Anyer. Kali ini, tidak ada organisasi lain yang turut serta, hanya KRB dengan 15 orang relawannya. Meskipun demikian, di lokasi yang sama juga sudah banyak para relawan dari beberapa lembaga dan organisasi lain yang memberikan bantuan.

Akses jalan menuju Kampung Garung Sigarubug yang beberapa waktu lalu masih tertutup, kinisudah bisa diakses. Bantuan-bantuan pun sudah memenuhi rumah Ketua RT 04. Posko-posko bantuan dan dapur umum sudah berdiri. Spanduk-spanduk bertema ‘peduli bencana’ sudah dibentangkan sedari titik pertama yang terkena dampak bencana tanah longsor dan banjir bandang. Ada dari lembaga pemerintahan, perusahaan, Organisasi Kemasyarakatan dan lain sebagainya. Kedatangan Komunitas Relawan Banten ke lokasi itu pun tidak luput dari sambutan Ketua RT dan Kepala Desa Sindang Mandi.

Alih-alih memberi bantuan barang, KRB memilih mengajak anak-anak bermain untuk menghilangkan trauma pasca bencana. Trauma healing “Kita Semua Bahagia”, itulah program yang diusung komunitas ini. Tak ada spanduk yang dibentangkan, hanya ada suara Ketua RT yang memberi pengumuman agar anak-anak SD dan SMP berkumpul di bekas aliran sungai di depan rumahnya. Selain itu, para relawan yang berjumlah 15 orang itu juga gencar mengajak anak-anak yang sedang menonton alat berat atau yang sekadar duduk-duduk di pinggir jalan untuk ikut bergabung.

Sekitar 90-an anak memenuhi panggilan ketua RT 04 itu. Tidak ada tanah lapang yang memadai untuk bermain, selain bekas aliran sungai yang telah tertutup material longsor. Meskipun begitu, antusiasme relawan dan anak-anak yang hadir tidak berkurang. Perlahan, keceriaan anak-anak terlihat kembali seiring banyaknya permainan yang disuguhkan para relawan. Mulai dari Samson And Delilah, Seven Up, dan lain-lain. Acara pun ditutup dengan pelemparan balon ke udara sembari meneriakan yel-yel ‘kita semua bahagia’.

Merasa belum lelah, para relawan pun bersepakat menghampiri anak-anak di kampung lain. Lapangan upacara SD Garung dipilih sebagai tempat bermain. Anak-anak pun berdatangan, ada yang penasaran, ada pula yang ikut teman, bahkan beberapa anak dari Kp. Garung Sigarubug yang sebelumnya sudah bermain pun ikut bermain lagi.

Permainan di lokasi kedua ini lebih beragam. Selain Samson And Delilah yang menjadi andalan, ada juga pemainan Ular Terpanjang, Ular Terpendek, Lingkaran Terbesar-Lingkaran Terkecil, Bentuk Love Terbesar-Bentuk Love Terkecil,  Dor Tembak dan lain-lain hingga lapangan kecil itu pun menjadi riuh. Beberapa relawan dari perkumpulan 1000 Guru pun turut bergabung. Ada yang mengabadikan momen bermain itu, ada pula yang duduk menonton sambil terus tertawa melihat tingkah lucu anak-anak dan para relawan KRB itu.

Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara mesin Chainsaw, seperti sedang menebangi pohon-pohon di tengah hutan. Entah di hutan perbukitan sebelah mana, tapi anak-anak itu seolah tidak peduli. Para relawan KRB juga masih bersemangat mengajak anak-anak memainkan permainan terakhir. Angin sore mengibarkan bendera dan balon yang dilempar ke udara. Permainan hari itu selesai. Tapi keceriaan masih kental terasa. Suara mesin pemotong pohon yang sayup-sayup sampai di telinga, sudah tak terdengar lagi. [*]

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR