Ketika urbaners masih kecil mungkin ada yang pernah ikut orang tua nya untuk sekedar membeli makanan tradisional pada pagi hari untuk di konsumsi sendiri ataupun untuk acara siang harinya, dan salah satu tempatnya bisa jadi surabi kaujon yang melegenda itu.

All of me loves all of you…
Urbaners, kamu kenal siapa yang menyanyikan lagu itu, kan? Yup! Benar, John Legend. Percayalah, meskipun sama-sama ‘legend’, tapi John tidak menjual jajanan tradisional yang satu ini.

Serabi atau dalam bahasa Sunda Surabi. Jajanan tradisional ini biasanya memiliki dua jenis yaitu serabi manis dengan disiram saus gula atau kinca dan serabi asin yang dibubuhi oncom di atasnya. Tidak hanya itu, untuk mendapatkan cita rasa yang khas, cara memasaknya pun memakai tungku.

Tapi, seiring perkembangan zaman, serabi yang mulanya seperti anak perawan kampung itu pun berubah menjadi si cantik jelita di tangan para pebisnis makanan. Berbagai inovasi dilakukan untuk mempercantik sekeping serabi. Mulai dari varian rasa yang dibubuhkan pada adonan tepung beras itu, juga varian topping yang menggugah selera siapapun yang melihatnya. Kedai-kedai serabi pun menjamur dengan segala kelebihan itu. Hal ini tentu saja memudahkan para penggemar serabi. Kamu bisa langsung datang ke kedai, duduk dengan nyaman dan memesan serabi kesukaan di jam opersional kedai mereka.

Tapi, bagaimana jika kamu ingin makan serabi pada dini hari?
Tenang, masih ada Ibu Ida yang siap melayanimu di bawah pohon asam Kaujon, Kota Serang. Jika kamu berkendaraan dari arah Alun-alun Serang, kamu akan melihat Ibu Ida berada di seberang jalan sebelah kananmu. Atau di depan gedung tua yang diabaikan.
Memang, sih, perempuan berusia 44 tahun ini tidak membuka kedai seperti pada pebisnis makanan lainnya. Ia hanya hanya melapak saja di bawah pohon asam yang rindang itu. Tapi, walaupun serba sederhana, serabi buatannya pun bervariasi, lho. Ada serabi topping oncom, serabi manis, ada juga yang original, serabi telur dan lainnya. Ada satu hal yang membedakan serabi di sini, tidak ada taburan saus gula atau kinca pada serabi manisnya. Rasa manis itu langsung dibubuhkan pada adonannya.
Nah, karena bukan kedai atau warung tenda, maka kamu tidak bisa bermanja-manja di tempat ini. Bila kakimu pegal dan angin malam membuat tubuhmu menggigil, segeralah berjongkok di dekat tungku. Selain bisa menghangatkan tubuhmu, kamu juga bisa melihat dari dekat bagaimana ibu yang berasal dari Indramayu ini bekerja. Kamu juga bisa mengajak ngobrol perempuan yang mengaku belajar membuat serabi dari melihat dan praktek ini.

Tentu saja, harus tetap menjaga kesantunan. Sebab, perempuan yang tinggal di Cikepuh ini tidak pernah sendirian. Ada suami yang menemaninya mencurahkan adonan serabi itu yang dimulai dari pukul 01.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB. Dalam semalam, Ibu Ida melayani perut-perut pecinta serabi dengan menghabiskan 4-5 kilogram adonan. Sabtu dan Minggu beda lagi, para pecinta serabi bisa menghabiskan 6-7 kilogram.
Harganya bisa dua atau tiga atau empat kali lipat lebih murah dari sekeping serabi di kedai manapun. Sekeping serabi bawah pohon asam ini hanya dihargai 2 ribu rupiah. Legend banget, kan?

Mau coba sensasi makan serabi di bawah pohon asam Kaujon? Pinggirkan saja kendaraanmu di Jl. KH. Jamhar, Kaujon. Kalau mau lebih nikmat, dengarkan juga lagu John Legend itu. [*]

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR