Urbaners, kekayaan alam Banten itu memang tidak kalah dengan daerah lain. Salah satunya yang terkenal di dunia, yaitu Taman Nasional Ujung Kulon. Sejak tahun 1991, Taman Nasional yang memiliki luas 122.956 hektar dengan 433 KM diantaranya berupa lautan ini sudah termasuk dalam satu dari Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO.

Dalam sejarahnya, kekayaan alam yang ada di Ujung Kulon pertama kali dikenal dunia pada tahun 1820-an, urbaners. Saat itu, para pakar botani melakukan ekspedisi menjelajahi Semenanjung Ujung Kulon dan menemukan banyak spesimen-spesimen yang unik. Ekspedisi lanjutan pun dilanjutkan dengan melibatkan organisasi riset Hindia Belanda yang menganggap bahwa penemuan ini penting untuk ilmu pengetahuan.

Setelah terkena dampak dari peristiwa letusan Krakatau pada 1883, pertumbuhan kembali berjalan dengan cepat. Hutan kembali rimbun, satwa liar kembali berkembang biak. Salah satunya, kamu juga pasti tahu. Yup! Badak Bercula Satu atau Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Satwa keluarga Rhinocerotidae ini menjadi satu dari lima jenis badak yaitu Badak India, Badak Putih Afrika, Badak Hitam Afrika dan Badak Sumatera.

Di antara badak-badak itu, Badak Jawa memiliki ukuran tubuh yang kecil atau sedikit lebih besar dari ukuran tubuh badak Sumatera dan lebih mirip dengan Badak India. Panjang tubuh dari moncong hingga ekornya mencapai 3-4 meter. Badak Jawa juga memiliki panjang kepala 70cm dengan tinggi 168-175 cm dan bobot tubuh antara 900 sampai 2.300 kg. Warna tubuhnya abu-abu kehitaman dengan kulit polos tanpa rambut, tapi ada pula bagian yang berambut yaitu di bagian telinga dan ekor. Sedangkan pada bagian leher dan punggung badak Jawa memiliki lipatan kulit yang berbentuk pelana kuda dengan mozaik menyerupai sisik pada kulitnya yang kasar.

Persoalan badak ini, urbaners. Tidak hanya menyoal satwa itu, namun menyangkut populasinya juga. Jika ditilik dari sejarahnya, badak yang kini tinggal di Ujung Kulon itu pernah mendiami seluruh area di tanah Jawa ini. Coba saja lihat, berapa daftar daerah atau kampung yang memiliki nama badak. Misalnya, Cibadak, Kadu Badak, dan lain-lain.  Hanya saja, saking banyaknya badak saat itu, mereka masuk dan merusak lahan perkebunan dan pertanian. Hingga pada tahun 1700-an, pemerintah memberikan hadiah bagi siapa saja yang dapat membunuh badak. Selain karena cula badak ini berharga, tentu saja. Dalam kurun waktu 2 tahun saja, 500 ekor badak mati. Karena itu, badak takut pada manusia. Mungkin, kakek dan nenek badak ini mewasiatkan pada anak dan cucunya agar menghindari manusia. Buktinya, generasi saat ini sulit sekali menemukan badak di habitatnya.

Bukan hanya sulit, namun kini hampir punah. Dilansir dari situs iucnredlist.org yang dikeluarkan oleh International for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), berdasarkan data tahun 1996 status mamalia herbivora ini termasuk critically endangered (CR) atau sangat terancam punah. Hal ini karena jumlah Badak Jawa dewasa kurang dari 50 tanpa subpopulasi yang lebih besar. Selain itu, jumlah ini pun terus mengalami penurunan.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Badai Taman Nasional Ujung Kulon, keberadaan Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) di tahun 2015 memiliki peningkatan dari tahun 2014. Di tahun 2015 jumlah Badak Jawa sekitar 63 ekor, dengan rincian Badak jantan berjumlah 35 dan betina sebanyak 28 ekor yang tersebar di Semenanjung Ujung Kulon.

Selain itu, untuk penyelamatan dan konservasi, pihak Balai Taman Nasional Ujung Kulon juga berencana untuk membuat penangkaran Badak Jawa. Amila (38) mengatakan bahwa penangkaran ini dibuat untuk mempermudah melihat Badak Jawa.

Sebelumnya, monitoring Badak Jawa dilakukan dengan metode penghitungan jejak dalam transek yang menghasilkan jumlah populasi berupa perkiraan. Selain itu, sejak 2011 lalu, Balai TNUK juga menggunakan perangkap kamera video. Kamera ini akan otomatis merekam objek yang bergerak di depannya. Metode ini menghasilkan data kondisi populasi dan habitat Badak Jawa secara faktual objektif dan lengkap. Kegiatan monitoring ini dilakukan oleh tim Rhino Monitoring Unit (RMU).

Kalau kamu ingin melihat Badak Jawa secara langsung, kamu juga bisa ikut tim monitoring Badak Jawa ini. Syaratnya gampang banget, kamu harus siap bermukim di hutan selama 10 hari atau lebih. Syarat tambahannya, tidak lebih dari dua orang, urbaners.

“Anak muda di Banten yang ingin melihat Badak Jawa, bisa mengajukan surat ke Balai Taman Nasional Ujung Kulon di Labuan dan harus siap bermukim di hutan selama 10 hari atau lebih,” ujar Amila.

Sama halnya dengan Badak Jawa, Banten juga memiliki tanaman khas, urbaners. Kokoleceran (Vatica bantamensis) disebut sebagai tanaman khas Banten. Tanaman endemik ini tumbuh di Taman Nasional Ujung Kulon atau di sekitar Semenanjung Ujung Kulon. Namun, tanaman ini juga bisa tumbuh di daerah lain di Banten. Cara pengembangbiakkan tanaman ini dengan bijinya yang berbentuk bulat dan memiliki diameter 1 cm.

Sayangnya, tanaman yang termasuk kerajaan plantae dari keluarga Dipterocarpaceae ini masuk dalam daftar merah IUCN. Statusnya endangered level E alias langka. Meskipun di situs iucnredlist.org juga terdapat keterangan ‘needs updating’ atau belum ada data lagi sejak data tahun 1998.

Tanaman Kokoleceran Salah Satu Tanaman Langka Khas Ujung Kulon

Nah, kalau kamu berminat meneliti Badak Jawa, kamu bisa sekalian meneliti tanaman Kokoleceran ini, urbaners. Kamu bisa melihat dari ciri-ciri tumbuhan ini yang memiliki tinggi hingga 30 cm dengan bulu-bulu halus yang lebat pada batang mudanya. Bentuk daunnya menjorong dengan panjang tangkai mencapai 2,2 cm. Bunga Kokoleceran memiliki panjang 7 cm.

Gimana berminat menjelajahi hutan di Taman Nasional Ujung Kulon? Ajak tim bantenurban.com, ya hehe.

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR