Umurmu sekarang berapa? Tinggal di kota Serang? Akrab dengan nama Ujang?

Jika umurmu sekarang tidak lebih dari 25 tahun, dan tinggal di Kota Serang, mungkin kamu tidak akan asing dengan nama Ujang. Ujang untuk beberapa orang, lebih dari sebuah nama. Nama tersebut bisa diidentikkan dengan sebuah tempat nongkrong yang berada di sekitar alun alun dan Rumah Sakit.

Ujang namanya. Jika kamu melihatnya berjualan, ada sebuah benda yang selalu melekat pada dirinya. Sebuah topi. Ya. Sebuah topi. Sesuatu yang telah lekat dengan identitasnya, sepertinya topi yang ia pakai tak pernah terlepas ketika berjualan.

Berumur sekitar 28 tahun. Ujang tampak sibuk melayani pesanan pelanggannya yang merupakan anak sekolah yang baru saja pulang, mahasiswa yang mampir, bahkan supir supir angkot yang sedang beristirahat sambil menunggu penumpangnya. Gerobak biru miliknya dipenuhi berbagai jenis minuman kemasan yang bisa kamu pesan. Selain minuman yang memenuhi gerobak birunya, ada hal lain yang ada di gerobaknya. Berbagai stiker komunitas tertempel di berbagai sudutnya.

“A, es sih satu” mungkin kata kata seperti itu yang akan sering kamu dengar ketika mampir di tempat ini, selain obrolan obrolan para pengunjung lainnya. Sementara itu, ujang tetap tersenyum sambil sesekali bercanda di tengah keriuhan yang timbul dan tenggelam.

Di sela riuh yang timbul, gue memilih untuk iseng iseng wawancara ujang.

Gue : “A, udah berapa tahun jualan di sini?”

Ujang : “Dari kapan ya? Sekitar tahun 2005 atau 2006 lah mulai jualan”

Gue : “Terus kok bisa sih sampe jualan di sini?”

Ujang : “dulu sih pertama, orang tua yang jualan di sini. Lulus sekolah tuh pengen kerja, tapi kendala orang tua udah nggak ada, sedangkan warung orang tua udah banyak pelanggan. Jadi ya nerusin.

Gue : “A, enaknya jualan di sini, apa?”

Ujang : “nambah silaturahmi. Banyak ketemu temen. Jadi enak jualan juga santai.”

Gue : “terus kalo gak enaknya, a?”

Ujang : “ga enaknya itu kalo lagi ada operasi. Kalo ada operasi aa biasanya ga jualan, atau pindah tuh ke belakang”

Gue : “oiya. Terus tinggalnya di mana, a?”

Ujang : “aa dari dulu mah tinggal di Kaujon. Gak ke mana mana”

Gue : “kan jualan mah ada ya a untungnya, sehari untungnya berapa, a?”

Ujang : “ga tentu jualan mah. Kadang naik, kadang turun. Yang penting mah ada aja, lah.”

Gue : “terus, a. kalo ada yang ngutang gitu, boleh?”

Ujang : “boleh, atuh. Soalnya kan namanya juga pelanggan”

Gue : “a dari dulu sampe sekarang kayanya jualannya sendiri aja. Ga ada yang nemenin?”

Ujang : “sendiri aja, o. masih bisa ditangani sendiri soalnya”

Gue : “ wih, mantep. Terus kan jualan aja, nih. Mau sampe kapan, a?”

Ujang : “sampe ga bisa jualan lagi, o. selagi masih bisa mah terus aja”

Gue : “terbaik amat, a. yaudah geh oo minta esnya lagi”

Ujang : “hahahaha…”

 

Warung Ujang. Cuma sebuah tempat. Jika sempat, singgahlah. Ada Ujang dengan kesederhanaannya yang siap membuatkan minuman segar yang kamu mau, tapi jangan lupa bayar. Oiya, satu hal yang asyik, ujang selalu pamit ketika adzan mulai berkumadang. Ia akan pergi ke sebuah mushala yang ada di dalam sebuah kantor dinas yang dekat dengan warungnya. Ujang akan kembali dengan senyum yang selalu terlukis di bibirnya.

Tetap sehat, jang! Tetap semangat! Besok saya mampir lagi. Memesan satu gelas es lagi. Untuk kali ini, pamit dulu ya, jang!

“hati hati, o!”

 

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR