Pagi baru saja melek saat jeep yang membawa tim Explore Banten Trip membelah jalanan Cilegon-Anyer melalui jalan Lingkar Selatan, Cilegon. Tujuannya, tentu saja Pelabuhan Paku Banten, Anyer, tempat bertemu dengan teman Explore Banten Trip yang akan menyeberang ke Pulau Sangiang. Pulau yang sekarang dijadikan Taman Wisata Alam berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 55/Kpts-II/1993 dengan luas 528,15 Ha itu sebelumnya pernah menjadi Cagar Alam dengan luas 700,35 Ha dan menjadi Taman Wisata Alam Laut pada 1993 dengan luas 720 Ha.  Ke sanalah tujuan Explore Banten Trip kali ini bersama ke-24 teman trip dari 3 daerah yaitu Tangerang, Rangkas dan Serang.

Sesampainya di Pelabuhan Paku Banten, sudah banyak rombongan yang menunggu untuk menyeberang. Bahkan, beberapa di antaranya menginap di amben warung di area pelabuhan. Satu persatu teman trip Explore Banten Trip pun berdatangan. Setelah berkenalan dan check kehadiran, semuanya kemudian naik ke kapal kecil yang akan mengantar ke pulau.

Keakraban memang bisa diawali dengan makanan, atau dengan ber-wefie. Karena itu, tidak perlu waktu lama, susana di atas KM. Baruna Jaya yang baru saja keluar dari pelabuhan itu pun sudah terasa akrab. Selain itu, kapal nelayan yang berpapasan, pabrik di sepanjang Anyer yang mengepulkan asap dan semburan api, tumpahan minyak, kapal-kapal besar di tengah lautan tak jauh dari Pulau Ular juga menjadi pemandangan yang tidak bisa diabaikan, sekaligus bahan obrolan.

Hampir satu jam lebih membelah lautan, kapal mulai diarahkan menuju lokasi snorkeling pertama, Legon Bajo. Hanya saja, area itu masih  tertutup sampah dengan lendir tumpahan minyak di atasnya. Kapal kecil itu pun berbalik ke lokasi lainnya di Legon Waru. Rupanya, sudah ada dua rombongan lain di sana. Air jernih dengan terumbu karang yang indah dan ikan-ikan memang membuat area itu serupa aquarium alam. Karena itu, teman Explore Banten Trip pun langsung menyiapkan diri untuk melihat dari dekat keindahan itu.

Semakin siang, kapal-kapal dengan rombongan lainnya datang bergabung. Total ada 6 kapal yang menunggu penumpangnya menikmati keindahan bawah laut itu. Sementara di kejauhan, kapal lainnya datang mendekat.

Menurut crew Kapal, Pak Rusdi, di hari libur seperti ini memang banyak teman trip yang datang. Di lokasi Legon Waru ini bahkan bisa sampai 20 kapal dengan tamu masing-masing.

“Hari biasa juga sebenarnya ada. Cuma jarang,” kata lelaki setengah baya yang mengaku berasal dari Malingping dan tinggal di Anyer sejak 1981 itu.

Setelah dua jam lebih di area itu, teman Explore Banten Trip berlayar lagi menuju Legon Bajo yang sudah tampak bersih. Hanya saja, karena sudah puas melihat pemandangan di Legon Waru, teman Explore Banten Trip memutuskan untuk langsung bersandar di dermaga kecil di pulau yang terletak di titik kordinat antara 105′49′30″ – 105′52′ Bujur Timur 5′56′ – 5′58′50″ Lintang Selatan itu.

Di dekat dermaga kecil yang muat kurang dari 10 kapal kecil itu, loket masuk dan rumah-rumah panggung berdiri. Anak-anak kecil yang bermain dan para penduduk yang ramah menyambut, membuat teman Explore Banten Trip seperti terbebas dari kelelahan selama di kapal.

Selain itu, ada keunikan yang dimiliki penduduk dengan jumlah 49 KK itu. Dalam berkomunikasi, penduduk di perkampungan yang masuk wilayah Desa Cikoneng ini, menggunakan 4 bahasa sekaligus, Bahasa Indonesia, Sunda, Jawa, dan Lampung.

Setelah membersihkan diri, makan siang, salat Dzuhur, dan lainnya, teman Explore Banten Trip mulai tracking menuju Goa Kelelawar dipandu guide lokal, Pak Surya. Jalan setapak yang sangat licin di musim hujan itu dilalui sembari ngobrol dengan kakek yang lincah itu. Ia mengatakan, dulu tanah di pulau ini sangat subur. Apapun bisa ditanam dengan sekali tancap di tanahnya. Huma, kebun cabai, kacang pancang, kebun pisang, dahulu banyak ditanam di sini.

“Dulu mah beras aja nggak beli. Pohon singkong aja bisa dinaiki,” kata lelaki yang mengaku menjadi penghuni paling lama dari generasi ketiga yang tinggal di pulau ini.

Tidak terasa, tiga puluh menit berlalu dan sampailah di goa yang riuh dengan cericit kelelawar dan hantaman ombak Selat Sunda itu. Goa yang sering dijadikan tempat singgah hiu ini berbau menyengat, namun tidak menyurutkan teman Explore Banten Trip untuk berfoto. Tim Explore Banten Trip pun mulai sibuk menjadi juru foto. Prosesi berfoto ini pun diakhiri dengan foto bersama setelah rombongan lain yang diantaranya berasal dari Bekasi datang.

Perjalanan dilanjutkan menuju puncak Goa Kelelawar yang menyuguhkan pemandangan tebing, lautan lepas dan pantai di antara tebing itu. Ada mulut goa lainnya yang terlihat di sana. Prosesi memotret pun dimulai lagi. Kelelahan akibat menanjak tadi seperti dibayar lunas di sini.

Setelah berfoto, teman Explore Banten Trip meneruskan perjalanan melalui jalur yang berliku dan curam. Jalur yang dilalui ini melewati area yang memiliki rangkaian bambu yang menyerupai tower di atas tebing yang dinamai Puncak Tunggu atau Puncak Pantau, meskipun tidak ada yang berhenti di sana. Keluhan lelah yang bercampur candaan riuh terdengar di sepanjang perjalanan.

Sesampainya di Puncak Harapan, kelelahan berjalan, membuat teman Explore Banten Trip melewatkan menghabiskan waktu dengan berfoto di area favorit ini. Selain karena alasan sudah banyak memotret di area Puncak Goa Kelelawar.

“Anak mall diajak tracking, ampun deh,” keluh salah atu teman Explore Banten Trip ketika beristirahat sebentar di Puncak Harapan dan langsung disambut tawa semua orang.

Perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Pasir Panjang yang menjadi tujuan akhir. Beberapa yang sudah kelelahan, langsung menjadi riang ketika melihat tukang kelapa muda. Pesanan es kelapa, minuman dingin, dan mie instan menjadi menu yang paling riuh dipesan.

Pantai Pasir Panjang Pasir putih dengan air yang jernih dan bebatuan di sebelah Timur menjadi daya tarik tersendiri bagi teman Explore Banten Trip. Tidak lama, rombongan lain pun berdatangan dan bergabung di area itu. Obrolan dan candaan antar rombongan satu dengan lainnya pun terdengar hingga waktu pulang datang.

Travelstory by: Uthera Kalimaya

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR