Pagar Kawat Berduri karya Trisnowuyono ini merupakan kisah revolusi yang terjadi sekitar tahun 1949. Pada tahun 1963, novel ini berhasil menjadi sebuah film dengan judul yang sama hasil garapan sutradara Asrul Sani dan Perusahaan Film Kedjora. Setahun kemudia, novel ini memperoleh penghargaan sebagai pemenang hadiah sastra Yayasan Yasmin.

Novel yang menceritakan kisah dua orang sahabat bernama Herman dan Toto yang termasuk pemuda yang berjuang sejak tahun 1946 untuk melakukan penyelundupan ke daerah musuh. Herman dan Toto mendapatkan tugas dari Markas Besar Tentara di Yogyakarta untuk pergi ke Semarang mencari berita tentang keberadaan Kapten Kresna yang kita tidak diketahui nasibnya. Diduga nasib Kapten Kresna tertangkap oleh pihak Belanda dan ditahan di Markas IVG di daerah Jawa Tengah yang terkenal kebrutalan dan keganasannya.

Untuk menjalankan tugas itu, Herman dan Toto melakukan penyamaran menjadi pedagang dan bergabung dengan pedagang lainnya pergi ke Semarang. Penyamaran Herman dan Toto terbongkar akibat adanya laporan dari dua orang penduduk yang menjadi mata-mata Belanda. Dan di perjalanan antara Magelang dan Ambarawa, Herman dan Toto disergap oleh pasukan Belanda. Esok harinya, Herman dan Toto dibawa ke Markas IVG di Salatiga; sebuah camp tawanan yang sudah terkenal dengan siksaan-siksaan  yang keji. Di camp inilah Herman dan Toto diperiksa secara ketat oleh seorang pribumi bernama Djajusman. Sersan itu kemudian banyak melakukan berbagai penyiksaan Herman, Toto, dan para tawanan yang lain.

“Herman mengalami siksaan yang mengerikan. Ia ditelanjangi, disiram kopi panas, dilistrik hingga meraung-raung seperti anjing kena jerat, dan Herman yang terus tabah akhirnya tak ubahnya dengan boneka sinyo Mechael yang tidak disukai lagi, dibanti-banting, dirobek-robek, dan dicampakan.” (halaman 21)

Seminggu lamanya kedua pejuang itu diinterogasi dan disiksa. Sekali waktu pemeriksaan dihadiri seorang Letnan Belanda dan anehnya pemeriksaan itu justru lebih manusiawi. Namun, Heran tak juga dibebaskan. Toto juga mengingkari segala tuduhan hingga akhirnya Sersan Djajusman kewalahan. Mereka pun lalu dipindahkan ke penjara umum yang dipimpin Sersan Mayor Koenen. Pemimpin penjara yang selalu melakukan kewajiban dengan bersih dan selalu berpedoman pada rasa kemanusiaan. Sersan Moyor Koenen dibantu oleh Boy, seorang kopral Belanda yang berbadan besar dan serba kasar dalam sikap dan sifat.

Mula-mula kedatangan Herman dan Toto dalam camp itu disambut dengan kecurigaan tawanan lain. Tetapi, setelah Herman dan Toto berkenalan dengan Parman yang ternyata dialah Kapten Kresna, suasana pun berubah menjadi berbeda. Kepada tawanan lain, Parman mengaku priayi dan guru, memperkenalkan Herman dan Toto sebagai kawannya. Di dalam camp, Herman dan Toto ditempatkan sekamar dengan Umar, Gimin, Usman, Harjono, Wahab, Parman, dan Pak Lurah. Selain tahanan pria, camp ini juga memuat tahanan wanita sehingga tidaklah mengherankan jika banyak terjadi kisah cinta yang terjalin di sana.

Parman atau Kapten Kresna adalah orang yang sangat cerdik dan licin; penyamaran sebagai guru di Yoga dipercayai oleh semua orang termasuk Sersan Mayor Koenen yang gemar bermain catur dengannya sampai akrab dan sayang kepadanya.

Dengan hadirnya Herman dan Toto, Parman lalu menyusun siasat agar mereka berdua dapat melarikan diri dari camp yang begitu ketat dikungkung kawat berduri. Akhirnya, pada suatu malam, dengan berbekal sebuah penjepit berbentuk paruh burung kakatua yang berhasil dicuri Parman sewaktu Parman bermanin dengan Sersan Mayor Koenen di kamar sersan mayor Belanda, kedua pemuda itu mencoba melarikan diri. Sunggu malang, ternyata usaha pelarian itu tidak sepenuhnya berhasil sesuai rencana. Toto tertembak dan tewas saat itu juga dengan tubuh bermandikan darah, dengan tangan masih memegang penjepit berbentuk paruh burung kakatua itu. Namun, Herman berhasil meloloskan diri dengan membawa surat rahasia Kapten Kresna.

Sementara itu, penjepit berbentuk paruh burung kakatua yang berada dalam genggaman tangan Toto dijadikan barang bukti. Sersan Mayor Koenen sadar bahwa penjepin berbentuk paruh burung kakatua itu miliknya. Oleh karena itu, tidak salah lagi jika penjepit itu telah dicuri oleh seseorang yang sudah biasa keluar-masuk kamarnya, yaitu Parman. Dengan barang bukti itu, Parman tak dapat lagi menyangkal. Kopral Boy segera memerintahkan untuk menembak mati Parman.

Menjelang pelaksanaan hukuman mati bagi Parman, Sersan Mayor Koenen yang merasa telah gagal dalam melaksanakan tugasya bunuh diri dengan cara menembak dirinya. Koenen sangat kecewa terhadap Parman yang telah dipercayainya, ternyata lebih suka membela bangsanya. Setelah mengetahui sersan mayornya bunuh diri, Kopral Boy memerintahkan menembak mati Parman.

Kematian Parman ternyata menumbuhkan perasaan malu para tawanan lainnya. Parman yang oleh sesame tawanan dianggap tidak memperlihatkan diri sebagai pejuang, ternyata seorang pejuang sejati. Para tawanan itu sadar, bahwa mereka adalah bangsa Indonesia yang mempunyai tanggung jawab untuk membela bangsa dan negaranya.

Pengarang       : Trisnowuyono ( 5 Desember 1926)

Penerbit           : Djambatan

Tahun              : 1963

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR