Halo Urbaners, seniman perempuan di Banten itu jarang banget. Apalagi yang menggeluti dunia desain dan seni, khususnya bidang tipografi. Dalam dunia desain, tipografi ini bisa memegang peranan penting. Pemilihan font bisa menciptakan desain yang menarik, tapi bisa juga menghancurkan desainmu.

Tahu nggak sih, tipografi ini salah satu bidang desain yang sedang dilirik banyak orang, termasuk perusahaan-perusahaan besar. Website-website penyedia jasa ini juga banyak seperti creativemarket.com dan lainya. Setiap orang bisa memamerkan karya sekaligus menjualnya. Selain itu, media sosial juga bisa menjadi alat untuk promosikan karya-karyamu.

Biar lebih jelas, kita ngobrol dengan seorang desainer perempuan yang menggeluti bidang ini, yuk? Dialah Swarini Purwadiwangsa atau Swa, perempuan ini tinggal di Banten juga, lho.

Hai Swa, thanks sudah meluangkan waktu untuk urbaners. Bisa ceritakan sedikit tentang siapa kamu kepada pembaca? Serta kesibukan apa yang sedang kamu jalani saat ini?

Halo! Haha. Jadi malu kalau ditanya lagi sibuk apa. Soalnya lagi jadi pengangguran full-time. Tapi sesekali corat-coret kertas biar punya baham untuk diupload. Hehe.

Apa sih yang membuat Swa tertarik menjadi seorang tipografer? Langkah awalnya gimana, tuh?

Tipografer, ya? Awalnya nggak niat belajar tipografi, karena awalnya belajar doodle. Lama-lama bosan sendiri, kebetulan lihat postingan tipografi kece di Instagram, terus rasanya kok keren gitu. Bisa nulis simpel tapi enak dilihat. Akhirnya sok-sokan lihat tutorialnya di Youtube. Ketagihan. Malah sekarang lebih rajin bikin tipografi gitu ketimbang doodle. Banting stir ceritanya mah.

Bagaimana proses kreatif Swa dalam menghasilkan sebuah karya, mulai dari konsep hingga final?

Hmm, pertanyaannya kayak lagi nanya tipografer profesional, lho. Hehe. Padahal semua prosesnya diawali dengan keisengan. Ini hasrat pribadi, sih. Karena lebih suka konsep floral design gitu. Biasanya, sih, suka kepikiran quotes (kutipan, red), lirik lagu, atau kalimat apa aja yang pengen dibikin tipografi. Nah, mulai deh bikin layoutnya pakai pensil. Mau disusun kayak apa dan mau dikasih hiasan apa, kalau udah dapat layoutnya yang kira-kira pas sama isi quotes, baru mulai ditebel-tebelin pakai media seadanya. Aku selama ini masih pakai kuas atau drawing pen. Udah kepikiran mau nyobain nib-pen, sih. Kalau semua hurufnya udah jadi, tinggal finishing pakai ornamen yang disukain aja.

Alat apa yang biasa kamu pakai untuk tempur?

Waw! Make art, not war. Kita nggak boleh berantem. Hehe. Di kotak ajaib aku ada drawing pen, segala macam alat tulis, dan cat air. Biasanya kalau aku bikin tipografi gitu, aku pakai semuanya kayak yang udah aku jelasin tadi.

Aneh nggak perempuan berprofesi sebagai desainer seperti kamu?

Haha. Nggak tahu. Aneh nggak, ya? Aku sih,  nggak ngerasa aneh. Paling orang-orang di sekitar aku. Dulu pernah diajak mural bareng. Mereka nggak tahu kalau aku perempuan, pas datang ke lokasi, ditanya, “Swa mana, sih?” Padahal aku udah di depan matanya. Mereka pikir yang dateng itu cowok, hehe.

Apa project paling berkesan yang pernah dikerjakan, ceritakan mengapa?

Aku masih suka nggak percaya diri sama karya aku sendiri, ini bukan sok-sok merendah gitu loh. Serius. Aku bilang ke mereka, “Jangan terlalu tinggi ya, ekspektasinya, soalnya masih pemula banget.” Mereka iya-iya aja. Hehe. Tapi beberapa  di lokasi, jadi akrab banget sama orang-orangnya, entah karena karakter yang sama. Maksudnya, sama-sama enggak sopan kalau ngomong. Haha.  Mereka apresiatif banget, meskipun aku sadar karya aku masih perlu dibenahi sana-sini. Mereka juga ngebantuin aku. Padahal, bahasa kasarnya sih, mereka yang bayar aku, hehe. Mereka antusias banget belajar muralnya. Setelah beberapa hari aku balik ke Banten, mereka bilang, mereka kangen aku. Uuukh, so sweet ya! Haha. Tapi serius, selama aku mural di sana, sumpah capek banget. Tapi nggak kerasa beban, soalnya punya banyak partner dadakan yang seru!

Sebagai seorang tipografer di Banten, apa Swa merasa punya tantangan? Seperti apa itu?

Tantangannya adalah, agak susah juga menemukan komunitas tempat kita bisa sharing skill gitu. Huhu. Entah akunya yang belum tahu, entah gimana. Soalnya butuh banget teman-teman yang hobinya sama dan mau bagi-bagi ilmu. Karena ngandelin tutorial Youtube belum cukup. Ada sih, komunitas seni rupa baru di kampus. Tapi belakangan ini mereka lagi ada project gitu. Jadi mungkin setelah mereka selesai project, aku bakal ikutan sharing skill, biar jago!

Adakah desainer yang ingin kamu ajak kerja sama dan siapa idolamu?

Waaaaaw idola? Ada! Banyak! Kalau desainer dari Banten, Rendy Depe, aku suka tipografinya! Kalau di Indonesia, aku suka sama tipografinya Herlina siapa ya? Aku lupa nama lengkapnya, tapi aku selalu ngikutin karyanya. Dia berasal dari Bandung kalau nggak salah. Kalau dari global, favorit aku itu Ana Victoria. Harapan pertama sih, bisa lihat proses mereka secara langsung. Nah, kalau mereka mau diajak kolaborasi, itu adalah sebuah keajaiban dan rejeki yang pasti langsung aku ambil! Huahaha.

Apa ambisimu untuk masa depan Swa?

Have a little but sweet studio! Pengen punya studio mini, tapi classy dan girly gitu. Entah di sebuah ruko pinggir jalan, atau di sudut rumah sendiri. Studio itu bakal jadi tempat dimana orang-orang yang datang bisa berlama-lama menikmati karya aku, secara langsung.

Punya Portfolio digital, instagram atau behance?

So far, sih, mini studionya masih berbentuk Instagram. Hehe. Di follow, ya. Username-nya, @swaaarini! Makasih lho. Haha.

Terakhir, tanggapan kamu tentang Bantenurban.com?

Hmm, brand-new media di Banten yang isinya gak melulu soal politik, tapi lebih tentang keunikan dan hal-hal menarik dari Banten dan sekitarnya.

Nah ini paling terakhir. Janji. Apa yang kamu harapkan dari provinsi Banten ini?

Haha. Harapanya…, ada banyak hal, sih. Tapi, sebagai anak muda, pengen banget pemerintahnya lebih memfasilitasi dan mendukung pergerakan kreatif anak-anak muda di Banten. Biar bisa saingan sama daerah lain. Katanya kan, pemuda masa kini, pemimpin masa depan. Pemuda kreatif hari ini, pemimpin keren di masa depan. Aku salah satu orang yang percaya kalau Banten masih bisa diharapkan. Karena aku udah lihat sendiri, banyak anak-anak muda di Banten yang kece, yang butuh dipoles-poles biar makin kece!

Terima kasih atas waktunya, Swa

.

Sama-sama banget!

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR