seniman banten

W.S. Rendra, siapa yang tidak mengenalnya, wahai Urbaners Banten? Di kelas Bahasa Indonesia, kamu pasti pernah menemukan karyanya, atau paling tidak dikenalkan gurumu sebagai sastrawan yang memiliki pengaruh besar bagi perkembangam sastra di Indonesia. Sekilas riwayatnya, pria yang dijuluki “Burung Merak” ini sudah pandai menuangkan kata-kata sejak masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia aktif dalam dunia seni sampai ia meninggal di Depok 6 Agustus 2009 lalu. Ibarat pepatah, gajah mati meninggalkan gading, Rendra meninggalkan karya-karyanya baik berupa naskah drama, esai, puisi, cerpen dan karya lainnya.

Pengaruh karya pria bernama asli Willibrordus Surendra Broto Rendra ini juga yang membuat para penikmat sastra di Kota Serang berkumpul dalam acara Serangan Rendra. Perhelatan kecil mengenang Rendra sekaligus memperingati hari kemerdekaan ini di Padepokan Kupi pada Selasa (16/8) lalu. Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB ini diisi dengan diskusi, pembacaan puisi, musikalisasi puisi dan menonton dokumentasi video Rendra, baik saat membacakan puisi di berbagai perhelatan, maupun penggalan adegannya saat beraksi di film Yang Muda Yang Bercinta (1977).

Acara yang dipelopori Alyth Prakarsa ini, rupanya menarik perhatian para pengunjung kedai kopi yang berlokasi di Kaloran itu. Apalagi ketika dosen Fakultas Hukum Untirta ini membagi pengalamannya yang terkait dengan karya Rendra. “Rendra itu sosok yang menginspirasi bagi Indonesia maupun untuk saya sendiri. Salah satu karyanya membuat saya yang masih muda saat itu, tergerak untuk menjadi bagian tim advokasi HIV/Aids terhadap Pekerja Sek Komersil (PSK) di Yogyakarta,” ujar Alyth yang juga dikenal dengan nama Koelit Ketjil ini.

Semakin larut suasana semakin riuh. Nasionalisme yang diteriakkan Rendra, seperti menelusup ke dada masing-masing pengunjung sehingga ketika tiba pembacaan puisi, para pengunjung yang semula berniat sekadar ngopi itu pun turut serta membacakannya. Puisi-puisi karya Rendra seperti Sajak Sebatang Lisong, Sajak Pertemuan Mahasiswa, Sajak Peperangan Abimanyu, Pesan Pencopet Kepada Pacarnya, Sajak Sebotol Bir, Sajak Seonggok Jagung, dibacakan lantang. Selain itu, para pengunjung pun dibebaskan untuk membacakan puisi karya sendiri. Suasana semakin memanas ketika teaterawan Peri Sandi Huitzche membacakan dua pidato Soekarno. Acara pun ditutup dengan musikalisasi puisi romantis.

penulis: Uthera Kalimaya

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR