Urbaners, musibah memang tidak ada yang bisa menduga. Gempa 6,5 SR yang menghantam Pidi Jaya, Aceh pada 7 Desember lalu pun demikian. Seperti yang dilaporkan akibat gempa ini, ratusan rumah toko hancur dan 101 orang tewas serta ratusan koban cedera. Sebagai saudara sesama manusia, banyak orang yang melakukan penggalangan dana. Membantu para korban gempa ini dengan upaya yang mereka bisa. Tidak terkecuali di Serang, Banten.

Penggalangan dana yang dilakukan pun memiliki beragam cara. Diantaranya dengan mengamen seperti yang dilakukan oleh Banten Blues Brother pada 11 Desember lalu. Berkeliling langsung di jalan dengan dus bertuliskan ‘Penggalangan Dana’, dan ada pula dengan menjual buku seperti yang dilakukan Unit Kegiatan Mahasiswa Belistra FKIP Untirta. Buku-buku yang dijualnya pun beragam. Mulai dari buku Komodo Books, Belistra, Kubah Budaya dan Berjaya Buku.

Di bawah langit mendung di halaman Pusat Kegiatan Mahasiswa itulah lapak lesehan penjualan buku ini berada. Di pinggir buku-buku yang digelar di atas baliho bekas kegiatan, sebuah dus yang ditempeli tulisan ‘Jual Buku 50% Keuntungan Untuk Korban Bencana Gempa Aceh’ menjadi tandanya. Tulisan ini pun ditempel di plang yang sama dengan bendera UKM Belistra FKIP Untirta dibentangkan.

Di antara buku yang dijual, ada Jurnal Sajak dari jilid 1 hingga 13, Jurnal Kritik dari jilid 1 hingga jilid 4,  buku seri puisi Jerman diantaranya Coret yang Tidak Perlu karya Hans Magnus Enzensberger, Surat untuk Ayah karya Franz Kafka, dan lainnya. Sedangkan untuk buku seri puisi Indonesia diantarnya Taneyan karya Mahwi Air Tawar, Tulisan Pada Tembok karya Acep Zamzam Noor dan lain sebagainya.

Selain itu, ada pula novel terjemahan diantaranya Naomi karya Tanezaki Junichiro, Siapa Pembunuh Palomino Molero? Karya Mario Vargas LLosa. Kumpulan cerpen Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku karya Mardi Luhung, Penanggung Tiga Butir Lada Hitam di Dalam Pusar karya Niduparas Erlang, Karapan Laut karya Mahwi Air Tawar, Santet Tujuh Pulau karya Abdul Kadir Ibrahim dan Patung Kaki Kanan karya Arip Senjaya. Sedangkan untuk kumpulan esai, ada kumpulan esai Sebuah Pintu yang Terbuka karya Wahyu Arya, Roti Semiotik yang Memadai karya Arip Senjaya, serta buku-buku kajian ilmiah seperti Semiotika dalam Analisis Karya Sastra karya Okke Kusuma Sumantri Zaimar, dan lain sebagainya.

Penanggung jawab penjualan buku, Siti Nuraisyah (19), mengatakan bahwa sebenarnya UKM Belistra FKIP Untirta sudah lama menjual buku yaitu sejak milad Belistra ke-9. “Waktu itu ada buku terbitan Komodo Books yang dibedah, jadi kita dititipi 2 dus besar buku buat dijual. Karena belum habis, jadi dijual sampai sekarang,” terang perempuan berjilbab ini pada Rabu (14/12) kepada bantenurban.com.

Sedangkan untuk penggalangan dana untuk Korban Gempa Aceh ini, Aisyah (demikian ia biasa disapa) mengatakan bahwa idenya berasal dari senior Belistra, Dwi Mukhsin Yulianto. “Waktu itu A Dwi nyaranin buat jualan buku sambil nyumbang saudara-saudara di Aceh. Selain itu, biar kita semangat lagi jualannya dan sekalian kita dapat pahala juga.” Ujar perempuan Pandeglang yang mengaku belum punya pacar ini.

Aisyah juga mengatakan bahwa selama seminggu sejak penggalangan dana yang dibalut dengan penjualan buku ini, pihaknya sudah menjual lebih dari 10 buku baik yang membeli langsung, maupun yang memesan via facebook UKM Belistra FKIP Untirta. Para pemesan diantaranya berasal dari Ciamis, Bandung, Jakarta, Tangerang dan Cilegon. Buku-buku yang banyak dicari yaitu buku teori dan buku prosa puisi. Namun tidak sedikit juga yang mencari buku puisi dan novel terjemahan.

Saat ditanya dana hasil penjualan buku yang akan disumbangkan ini akan dikirimkan melalui organisasi mana? Aisyah menjawab bila pihaknya akan menyatukan dana ini dengan organisasi lain yang juga sedang menggalang dana. “Kita berharap sih banyak yang beli bukunya, biar banyak sumbangannya. Yah, selain beli buku dapat ilmu, dapat pahala juga,” pungkas perempuan yang hobi memakan mie super pedas dari Korea ini.

Hujan turun, para penjual buku yang juga menggalang dana ini segera membereskan jualannya. Tempat tujuannya yaitu depan sekretariat mereka di gedung PKM B Untirta.  Di sana, buku kembali digelar.

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR