kesultanan banten

Seluruh dunia tahu, Banten sangat kaya dengan wisata ziarah. Salah satunya tentu saja kesultanan Banten dan Banten Lama. Sudahlah, ini tempat tujuan ziarah yang tidak pernah libur. Setiap hari, para peziarah dari berbagai penjuru Indonesia berdatangan ke rumah Sultan Maulana Hasanuddin ini.

Para peziarah ini, urbaners, tidak mengenal waktu. Siang dan malam sama saja padatnya. Kepadatan yang maha biasanya terjadi pada hari-hari tertentu, seperti Malam Jumat Kliwon dan Malam Purnama. Jika kamu datang ke Banten Lama pada waktu itu, niscaya kendaraanmu tidak akan bergerak. Banten Lama menjadi lautan kendaraan para peziarah. Tujuannya tentu saja berziarah ke makam para Sultan Banten. Tapi tidak sedikit dari mereka yang datang untuk mengetahui lebih jauh tentang sejarah Banten. Misalnya saja dengan mengunjungi Museum Purbakala Banten Lama, melihat dari dekat situs Keraton Surosowan dan lainnya.

Museum Purbakala Banten Lama tentu memiliki batas waktu kunjungan, urbaners. Bila kamu datang pada malam hari, kamu tidak bisa masuk. Tapi tenang saja, kamu masih bisa melihat peninggalan leluhur Banten lainnya yang tersimpan di luar. Salah satunya, Situs Watu Gilang. Lokasinya ada di antara saung para pedagang dan tidak jauh dari pintu masuk Keraton Surosowan, atau di Timur Laut meriam Ki Amuk.

Watu Gilang Sriman Sriwacana Sribaduga Maharaja ini konon dibuat oleh Prabu Susuk Tunggal sebagai hadiah untuk menantunya, Jaya Dewata, setelah ia menyatukan Sunda dan Galuh. Jaya Dewata pun kemudian diberi gelar Prabu Siliwangi. Batu andesit persegi panjang berukuran 190 x 120 cm dan tebal 16, 5 cm ini kemudian digunakan untuk penobatan para raja Sunda. Mulai dari Prabu Aji Jayadewata, Surowisesa, hingga Raja Sunda Pajajaran terakhir, Prabu Raga Mulya Surya Kancana. Bahkan, Sultan Banten pun dinobatkan di atas Watu Gilang ini mulai dari Sultan Maulana Yusuf hingga Sultan Haji.

Sebenarnya banyak versi perihal kehadiran Batu Gigilang atau Batu Gilang di Banten. Versi Babad Banten yang dikutip Claude Guillot menyebutkan bahwa saat Maulana Hasanuddin berhasil menaklukkan Banten Girang pada 1526, Sunan Gunung Jati memerintahkan agar Hasanuddin mendirikan kota baru di tepi laut. Tapi ternyata di tempat yang ditunjukkan oleh Sunan Gunung Jati itu ada seorang pertapa. Dialah, Betara Guru Jampang. Versi lainnya menyebutkan bahwa setelah Kerajaan Pajajaran direbut Banten pada penghujung tahun 1526, Kerajaan Sunda saat itu juga resmi berakhir. Batu tempat penobatan raja Sunda itu pun kemudian diboyong ke Banten.

Nah, demi menjaga dan membuktikan bakti anak cucu kepada leluhur, Komunitas Balaputra Salakanagara melakukan perhelatan kecil Ngarumat Watu Gilang pada Kamis (08/9). Ngarumat berasal dari Bahasa Sunda yang memiliki arti pembersihan atau pencucian atau perawatan. Komunitas yang dan mengkhususkan diri dalam menjaga dan melestarikan benda-benda bersejarah ini, sudah tiga kali mencuci Batu Gemilang atau Watu Gilang. Tidak banyak orang yang mengikuti prosesi ini, beberapa peziarah yang berada di sekitar area melihatnya dari balik pagar. Sebab, hanya anggota komunitas yang memiliki falsafah “lain Migusti tapi Mupusti” ini saja yang dibolehkan masuk ke areal berpagar itu.

Seusai ngarumat, komunitas yang berpusat di Pandeglang ini langsung menuju situs Keraton Surosowan. Tak ada seorang pun yang dibolehkan menggunakan alat bantu penerangan saat memasuki area seluas 3 hektar itu. Dengan begitu, keraton yang dibangun sekitar tahun 1522-1526 itu akan lebih tampak agung dan membuat decak tanpa henti. Meskipun kini hanya menyisakan pondasi dan petak-petak kamar persegi empat saja,  tapi luasnya area keraton dan tingginya benteng yang pada saat pembangunannya melibatkan ahli bangunan asal Belanda, Hendrik Lucasz Cardeel (yang kemudian bergelar Pangeran Wiraguna-red), ini akan membuatmu membayangkan betapa megah, betapa indah, betapa kokoh keraton ini.

Suasana yang sepi dan bulan sabit di atas kepala juga akan membuat imajinasimu kembali ke masa lalu. Ketenangan seperti kembali ke rumah saat mudik lebaran juga bisa kamu rasakan bila maksud kedatanganmu baik. Misalnya saja, menepi dari keriuhan, melihat dari dekat bukti sejarah Banten dan maksud baik lainnya. Tapi, kalau maksud kedatanganmu untuk pacaran dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh atau tidak sesuai norma yang berlaku, sih, lebih baik putar kembali kendaraanmu dan pilihlah tempat hangout yang bantenurban.com rekomendasikan untukmu. [*]

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR