Media nasional baik cetak, elektronik, maupun online akhir-akhir ini sangat gencar mengangkat isu Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta. Siapa yang tidak kenal, atau setidaknya sering mendengar nama-nama seperti Basuki Tjahja Purnama (Ahok), Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Agus Yudhoyono? Ya, memang nama-nama tersebut seperti sudah tertanam didalam otak kita akhir-akhir ini. Kita sangat hafal dan akrab dengan nama-nama tersebut, bahkan hafal segala isu tentang mereka untuk dijadikan bahan perdebatan disuatu forum kecil sekelas tempat nongkrong.

Yang menjadi ironis ketika mereka dengan segala isunya yang notabennya adalah urusan daerah atau propinsi lain, di daerah sendiri yang sedang akan menyambut hal serupa berupa Pilkada Banten justru luput dari perhatian kita. Kalau kata peribahasa sih “Semut di ujung pulau terlihat, gajah di pelupuk mata tak tampak”.

Cap negatif yang sudah dimiliki oleh dunia politik, berupa janji dan korupsi membuat kaum muda terkadang tidak peduli dan tidak ingin terlibat dengan politik. Padahal dengan terlibat dalam dunia politik dan menjadi pemilih yang cerdas, lebih terbuka dalam berpikir, dan berhati-hati dalam memilih, kaum muda bisa menciptakan pemimpin yang  baru. Beruntung lah kita masih mempunyai anak muda yang masih peduli pentingnya melek politik.

Mempunyai tujuan untuk mengedukasi kaum muda untuk menjadi pemilih yang cerdas dan menjadi masyarakat yang peduli akan politik, Youth Voice Festival hadir di kota Pandeglang dengan berbagai rangkaian acara yang menarik. Mengangkat tema kritik sosial dan ajakan untuk memilih Youth Voice Festival mengadakan perlombaan mural, graffiti, dan fotografi.

dsc_0420

dsc_0421

 

Tidak hanya perlombaan, hadir juga harmoni yang memanjakan telinga penonton berupa musik dan pementasan teater yang masih sama dengan tema acara. Tidak lupa juga dengan hadirnya tim sukses dari kedua Calon Gubernur Banten yaitu pasangan WH-Andika dan Rano-Embay. Ada juga wahana berupa surat aspirasi dan video aspirasi yang melibatkan penonton yang hadir.

Acara dituntun oleh pembawa acara bernama Nisa dan Gebi yang mengaku sebagai stand up comedy. Dibawakan dengan rasa damai, acara dibuka dengan menampilkan band lokal yang menyanyikan beberapa lagu dari musisi kondang Iwan Fals dan dilanjutkan dengan orasi dari KPU Banten dan dilanjutkan dengan orasi untuk Banten.

dsc_0458

Acara yang akur ini berlanjut dengan menampilkan band akustik yang menyanyikan lagu tema Indonesia dan mampu menyita perhatian penonton bahkan sampai tukang jamur crispy tutup sementara. Keluarga Penyanyi Jalanan (KPJ) juga turut serta untuk menyuarakan aspirasi dalam bentuk lagu, dengan musik yang dikemas dengan sederhana KPJ sukses membuat penonton tepuk tangan penonton lain.

“Tadi kita nyanyi lagu judulnya bohong, kenapa bohong yah kan pemerintah juga gitu. Jadi ini mah buat yang nanti mau naik, jangan suka bohong lah, kita sama-sama cari nasi, jadi tolonglah untuk para calon pemimpin pikirin rakyat kecil.” Tutur Mang Jakjak sebagai salah satu anggota dari KPJ.

Setelah band, akustik, dan KPJ yang sempat mencuri telinga penonton, musik tradisional ikut ambil alih untuk kembali mencuri telinga penonton. Instrument khas yang dikeluarkan dari bambu membuat malam itu tampak begitu harmoni. Tidak hanya soal harmoni yang terus membuat telinga kesurupan, dunia peran ikut ambil alih dengan pementasan teater dari Wisrawa dan monolog dari Rumah Sastra yang tampil dengan membawakan tema acara, berupa kritik sosial dan ajakan memilih. Acara dan malam yang akur ini ditutup dengan musik Tiga Pagi yang membuat malam menjadi tenang. Sangat tenang. Lebih tenang dari matamu. Kiiiw.

“Acara ini ada untuk membuat anak muda lebih peduli terhadap politik, emang sih dengan cap negatif yang politik buat jadi susah buat balik lagi percaya. Tapi, coba deh lebih terbuka, masih ada hal kecil yang positif dalam politik, masih ada harapan buat kita, masih ada.” Tutur Faiz Fadhlih Muhammad  sebagai ketua penyelenggara acara.

Acara yang berlangsung dengan damai ini, sukses dibawakan oleh sepasang manusia yang pandai bermain kata. Penonton diberi kebebasan untuk kemana saja, melihat apa saja, dan mendengarkan apa saja. Mural dan grafiti memanjakan mata penonton, wahana-wahana yang tersedia memanjakan kaki penonton, dunia peran yang memanjakan perhatian penonton, dan musik yang mengalun memanjakan telinga penonton. Konsep acara menarik dengan edukasi politik yang dikemas dengan unsur seni dan kesukaan kaum muda. Acara yang tidak terasa cangung untuk anak muda membicarakan soal politik.

Komentar

TIDAK ADA KOMENTAR